Antimikroba Ekstrak Rumput Laut Hambat Pertumbuhan Bakteri dalam Pengawetan Ikan

UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FKP) Universitas Airlangga berhasil menemukan antimikroba hasil memanfaatkan rumput laut Gracilaria sp yang diekstrak dengan etanol. Antimikroba ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri dalam proses pengawetan hasil perikanan.

Ketiga mahasiswa kreatif itu adalah Riza Anita Pitri, Endah Tri Martaningrum, dan Siska Anggita Dewi. Mahasiswa dari FPK UNAIR itu tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian (PKM-PE).

Hasil penelitian itu kemudian diangkat dalam proposal bertajuk ”Ekstraksi Etanol Rumput Laut Gracilaria Sp. Untuk Uji Antimikroba Pada Produk Ikan Asap di Kenjeran, Surabaya”. Proposal ini berhasil lolos seleksi dan memperoleh dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM 2018.

Diterangkan oleh Riza Anita Putri, ketua tim PKM-PE ini, bahwa pengawetan ikan secara tradisional masih banyak dilakukan di masyarakat, terutama pengasinan, pengeringan, pengasapan, dan fermentasi. Hampir 20% ikan hasil tangkapan diolah dengan pengasapan.

Prinsip pengawetan dengan proses pengasapan ini adalah adanya proses penggaraman dan  pengeringan. Kedua proses itu selain membantu menurunkan kadar air ikan, juga berfungsi  membunuh bakteri dan mikroorganisme serta membantu meningkatkan jumlah partikel asap yang melekat pada tubuh ikan.

”Pengawetan ikan dengan pengasapan dapat mengurangi pertumbuhan bakteri. Namun selama dan setelah proses pengolahan itu, kemungkinan kontaminasi bakteri patogen bisa saja terjadi. Sedangkan bakteri patogen dalam ikan atau hasil metabolismenya dapat menimbulkan gangguan kesehatan berupa keracunan (intoksikasi) dan infeksi,” kata Riza.

Dijelaskan juga, Staphylococcus sp. merupakan bakteri yang banyak terdapat pada makanan dan menyebabkan keracunan. Kontaminasi Staphylococcus sp pada ikan asap sangat dipengaruhi oleh faktor praktik higiene selama produksi.

“Karena kelompok kami dari Fakultas Perikanan dan Kelautan, maka untuk meminimalisir terjadinya keracunan akibat bakteri itu, kami berinovasi mengembangkan produk hasil perikanan, yaitu pembuatan antimikroba dengan memanfaatkan rumput laut Gracilaria sp yang diekstrak menggunakan etanol,” kata Riza Anita Pitri, mahasiswa Budidaya Perairan UNAIR.

Dalam hasil pengujian, daya hambat antimikroba ini dapat dibuktikan. Sebutlah diameter zona hambat ekstrak rumput laut I reratanya sebesar 0,24 cm. Sedangkan diameter zona hambat ekstrak rumput laut II reratanya 0,28 cm. Kemudian diameter zona hambat ekstrak rumput laut III reratanya 0,30 cm. Begitu juga diameter zona hambat ekstrak rumput laut IV reratanya 0,34 cm. Diameter zona hambat rumput laut I, II, III dan IV itu semua lebih kecil dari diameter cakram (0,6 cm). Sedang diameter zona hambat kontrol reratanya 0,40 cm.

”Berdasarkan hasil pengujian itu dapat dikatakan, semakin besar konsentrasi ekstrak etanol rumput laut semakin besar penghambatan pertumbuhan bakterinya,” imbuh Riza Anita.

Pada perhitungan TPC (Total Plate Count) untuk semua ikan asap relatif tinggi, berkisar antara 1,6 x 103-1,5 x 105. Tingginya nilai TPC itu dapat diminimalisir dengan memperhatikan higienis pada saat ikan diolah, disimpan, dan pada saat didistribusikan ke konsumen. Demikian hasil tim PKM-PE ini. (*)

Editor: Bambang Bes.