ikan lele
SEMANGGI air yang dijadikan obyek penelitian mahasiswa FPK UNAIR, mampu menyerap ammonia dan meningkatkan budidaya ikan lele sistem akuaponik. (Foto: Dok PKM-PE)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa Universitas Airlangga dalam inovatif penelitiannya berhasil menemukan pengaruh semanggi air yang dapat mengurangi ammonia pada budidaya sistem akuaponik, sehingga dapat meningkatan hasil produksi perikanan di Indonesia.

Keberhasilan itu ditorehkan tiga mahasiswa Budidaya Perairan Universitas Airlangga dalam penelitiannya. Mereka adalah Ridhwan Hakim Mahendra, Mirda Tri Aries Chandra dan Oktavia Arini Zuhriastuti.

Dalam penelitiannya yang dibimbing Daruti Dinda Nindarwi,S.Pi., M.P., staf pengajar pada Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, penelitian itu berhasil dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) dan lolos seleksi pendanaan Kemenristekdikti tahun 2018.

Latar belakang digagasnya ide penelitian ini, dijelaskan Ridhwan Hakim selaku ketua tim peneliti, setelah melihat kondisi pasar akuakultur yang dituntut menjadi kontributor utama peningkatan produksi perikanan nasional untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk di Indonesia.

Pertumbuhan penduduk yang diikuti meningkatnya kegiatan industri mengakibatkan lahan budidaya perikanan, khususnya akuakultur semakin sempit, dan petani mengubah sistem budidayanya menuju budidaya super intensif untuk memenuhi kebutuhan yang ada.

ikan lele
MAHASISWA FPK UNAIR dari kiri: Mirda Tri Aries Chandra, Oktavia Arini Zuhriastuti, dan Ridhwan Hakim Mahendra. Mereka meneliti semanggi air untuk meningkatkan budidaya ikan lele. (Foto: Dok PKM-PE)

Salah satu teknologi yang dapat dilakukan dan sudah banyak digunakan adalah sistem akuaponik. Sistem ini merupakan teknologi yang didasarkan pada prinsip assimilasi nitrogen anorganik (ammonia, nitrit dan nitrat) oleh komunitas mikroba dalam media budidaya yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh organisme budidaya sebagai sumber makanan.

Kegiatan akuakultur menggunakan sistem teknologi akuaponik dengan metode bioremediasi merupakan sistem budidaya dengan menerapkan kepadatan sangat tinggi dan memanfaatkan limbah budidaya sebagai pakan tambahan.

”Komoditas yang sering digunakan dalam sistem akuaponik adalah ikan lele. Mengapa? Karena lele memiliki harga jual dan permintaan pasar yang tinggi, namun biaya produksinya relatif rendah. Apalagi kegiatan akuakultur dengan sistem akuaponik ini bisa dilakukan oleh kalangan menengah kebawah sebagai penghasilan tambahan,” tambah Ridhwan Hakim.

Selain itu, tambahnya, usaha bioremediasi toksin dalam mereduksi ammonia untuk sistem budidaya akuaponik ini merupakan salah satu upaya menghindari dampak dari akumulasi toksin logam berat yang berpotensi berpindah ke manusia yang mengonsumsinya.

Bioremediasi adalah penggunaan agen-agen biologis untuk menetralkan tanah dan air tercemar menjadi zat-zat yang tidak berbahaya bagi lingkungan atau kesehatan manusia. Agen-agen biologi yang dipakai dapat berupa enzim, sel-sel mikroba atau tanaman. Salah satu tanaman yang potensial sebagai agen bioremediasi adalah semanggi air.

Tim PKM-PE ini melakukan penelitian selama tiga bulan menggunakan ikan lele dan semanggi air sebagai objeknya. Kronologinya, air dalam budidaya ikan lele yang mengandung ammonia itu akan diserap oleh tanaman semanggi air.

Hasil penelitiannya? Kata Ridhwan, dengan jumlah semanggi sebanyak 40 batang dalam satu media tanam ukuran 300 cm2 mampu menyerap ammonia rata-rata 50%. ”Jadi penggunaan semanggi air ini dapat dikatakan efektif dalam mengurangi kadar ammonia dalam budidaya perikanan menggunakan sistem akuaponik,” katanya. (*)

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).