siklus berjalan
SEPATU yang sudah dipasangi rangkaian alat LOGS yang bisa digunakan untuk menganilisis siklus berjalan manusia (Gait Analysis) untuk menunjang kesehatan. (Foto: Dok PKM-PE)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Manusia memiliki identitas masing-masing. Baik diidentifikasi dari sisi nama, wajah, badan dan gesture tubuh. Untuk itu dalam kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Kemenristekdikti tahun 2018 ini, mahasiswa Universitas Airlangga berhasil merancang sebuah purwarupa alat yang bisa menganalisis siklus berjalan manusia. Diyakinkan harganya lebih murah dan dapat digunakan dimana dan kapan saja.

Tiga mahasiswa prodi S1 Teknik Biomedis itu adalah Fadli Azhari, Tarikh Omar Asyraf, dan Asy-Syifa Mufidah. Dibawah bimbingan Akif Rahmatillah, ST., MT., dosen Fakultas Sains dan Teknologi ini, proposan penelitian mereka tentang “LOGS : Purwarupa Analisis Siklus Berjalan Manusia” di bidang karsa cipta (PKM-KC) berhasil lolos seleksi dan meraih dana penelitian Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2018.

Dijelaskan oleh Fadli Azhari, ketua tim PKM-KC ini bahwa berjalan merupakan kegiatan seseorang sehari-hari, namun memiliki informasi yang tersembunyi di dalamnya. Gait Analysis adalah studi mengenai siklus berjalan manusia (Gait) yang biasa dijumpai pada rumah sakit, atau tepatnya pada kesehatan fisik dan rehabilitasi medik.

siklus berjalan
DIANTARA anggota PKM-PE tentang LOGS memperkenalkan hasil inovasinya. (Foto: Dok PKM-PE)

Gait Analysis merupakan prosedur pengukuran yang penting dan dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang. Misalnya memonitor perkembangan ulkus pada kaki penderita diabetes dan membantu mencegahnya. Pada seorang atlet bisa digunakan meningkatkan performa dan mencegah terjadinya cidera, serta terbukti untuk membantu meningkatkan keseimbangan pada lansia dan penderita beberapa penyakit saraf.

Padahal, kehilangan keseimbangan merupakan yang membuat seseorang terjatuh, dan itu bisa menjadi penyebab utama cidera, bahkan kefatalan, misalnya bagi seorang lanjut usia.

Menurut Fadli Azhari, umumnya seseorang yang terjatuh akibat kehilangan keseimbangan berada pada usia 65 tahun keatas. Lalu setiap tahun terdapat 646.000 orang meninggal akibat terjatuh, dan sesuai data WHO: 80% berada pada negara-negara berkembang.

Namun, terjatuh akibat penuaan bukanlah hal yang tidak bisa dihindari, yakni melalui gaya hidup dan pelatihan atau sosialisasi dari praktisi kesehatan. Sayangya masih terkendala, selain kesadaran masyarakat yang kurang serta pengadaan laboratorium Gait analysis masih relatif mahal dan tak banyak ditemui di Indonesia.

“LOGS ini kami rancang dengan mengambil parameter-parameter dalam Gait Analysis yang nanti dapat diaplikasian, khususnya pada lansia, tanpa perlu datang ke rumah sakit karena data dapat diakses dari mana saja,” imbuh Fadli Azhari.

Fadli Dkk berharap, temuan ini dapat membantu masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup dan kesadaran mengenai kesehatannya. Apalagi biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah dan atau perusahaan dalam pengadaan alat kesehatan masih relatif tinggi, sehingga dengan LOGS ini bisa meringankan beban. (*)

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone