Peraih Karya Tulis Skripsi Terbaik Ini Jadi Wisudawan Terbaik

UNAIR NEWS – Hobi membaca komik serta mendengarkan musik, Claudia Anridho sukses menjadi wisudawan terbaik S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). Claudia berhasil membukukan IPK 3,76.

Di balik keberhasilannya meraih predikat wisudawan terbaik S2 FISIP periode Juni, Claudia memiliki beberapa pengalaman menarik saat kuliah. Claudia menceritakan bahwa dirinya pernah mengalami kuliah seperti les privat karena sedikitnya mahasiswa yang hadir. Selain itu, Claudia pernah harus melakukan antar jemput ibunya yang sakit saat kuliah.

“Perjuangan saat kuliah adalah harus mengantar jemput ibu saya yang sedang sakit. Padahal, hanya ada waktu jeda sejam dengan kuliah saya. Jadi harus ngebut pulang, kemudian mengantar ibu dan kembali ke kampus,” ungkapnya.

Mengenai tugas akhir S2-nya, perempuan kelahiran Surabaya, 14 Januari 1995, tersebut menulis tesis berjudul “Diskursus Pendidikan Tinggi pada Keluarga Etnis Tionghoa dan Etnis Madura di Kota Surabaya”. Judul itu dipilih karena menurut Claudia kajian terkait pendidikan tinggi pada etnis Tionghoa dan Madura belum banyak.

“Dua etnis tersebut adalah etnis yang fokus pada nilai dagang dan bisnis. Namun, ternyata juga ada nilai lain, yakni pendidikan yang tinggi,” tambahnya.

Anak kedua dari dua bersaudara tersebut juga membahas mengenai keterkaitan antara keputusan pengambilan jenjang pendidikan tinggi bagi anak dengan pemikiran orang tua. Praktik atas diskursus itu didominasi pemikiran orang tua sehingga anak hanya menjadi pelaksana keinginan orang tua.

Mahasiswa yang aktif dalam kepanitiaan itu juga pernah meraih karya tulis skripsi terbaik departemen antropologi. Hal itu diraihnya pada periode wisuda September 2016.

“Kuliah dinikmatin aja, have fun. Kalau hati senang dan ikhlas, hasilnya pasti juga memuaskan,” katanya.

Mengenai tips dan trik menjadi wisudawan terbaik, Claudia mengaku harus sering membaca buku dan jurnal serta memahami isinya. Selain itu, diskusi dengan dosen maupun dengan sesama teman kuliah tidak kalah penting.

“Kalau ada yang membuat semangat kuliah menjadi berkurang, ingatlah senyum orang tua ketika kita bisa diterima di UNAIR,” tuturnya.