cangkang bekicot
ANITA Dkk dari PKM-PE menunjukkan hasil penelitiannya, yaitu kitosan dari cangkang bekicot yang dapat meningkatkan mutu bahan restorasi gigi. (Foto: Dok PKM-PE)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kerusakan gigi yang dialami oleh masyarakat di Indonesia semakin meningkat. Kerusakan gigi itu dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain akibat kecelakaan fisik dan karies gigi. Riskesdas tahun 2013 melaporkan bahwa telah terjadi peningkatan prevalensi terjadinya karies aktif pada penduduk Indonesia dibandingkan pada tahun 2007, yaitu dari 43,4 % (2007) menjadi 53,2 % (2013).

Salah satu solusi untuk mengatasi kerusakan gigi yang disebabkan oleh karies gigi itu ialah dengan restorasi gigi atau penambalan gigi. Restorasi atau penambalan dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan bentuk gigi seperti keadaan semula, serta untuk mencegah perluasan karies gigi akibat bakteri kariogenik, sehingga gigi dapat berfungsi secara normal.

Bahan material yang sering digunakan sebagai penambal gigi serta yang sering dikembangkan dalam berbagai penelitian, adalah Glass Ionomer Cement (GIC). Pada produk GIC tersebut berbagai macam perbaikan penelitian dilakukan untuk membuat mutu dan performasi mekaniknya agar lebih sesuai dengan karakteristik gigi yang sesuai standar medis.

Atas permasalahan diatas, ketiga mahasiswa program studi S1 Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga melakukan penelitian terkait hal itu. Penelitian tersebut kemudian dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM- PE). Ketiga mahasiswa tersebut adalah Anika Kusnia Hanifah, Mohamad Heykal Putra Ardana, dan Irma Dwi Rahayu.

Dibawah bimbingan dosen FST, Drs. Djony Izak Rudyardjo, M.Si., proposal mereka berjudul ”Peningkatan Mutu Produk Glass Ionomer Cement (GIC) dengan Penambahan Kitosan dari Cangkang Bekicot sebagai Bahan Restorasi Gigi” berhasil lolos seleksi Dikti. Dengan demikian, tim Anika Kusnia Dkk berhak untuk mendapatkan pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tahun 2018.

Ditanya mengapa memilih penambahan dengan kitosan? ”Kitosan memiliki sifat-sifat yang menguntungkan untuk diaplikasikan pada bidang kesehatan gigi, yaitu memperkuat sifat mekanik dan mampu menghambat perlekatan bakteri serta dapat mencegah kerusakan permukaan gigi oleh asam organic,” jawab Anika, selaku ketua Tim PKM-PE ini.

cangkang bekicot
GIGI yang strukturnya siap dilakukan restorasi. (Dok PKMPE)

Irma Dwi Rahayu, anggota tim yang lain menambahkan, bahwa kitosan dapat ditemukan pada hewan yang mempunyai cangkang atau kulit yang keras. Pemakaian yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari cangkang bekicot, dimana di dalamnya terdapat kandungan kitosan yang lebih besar dari pada kulit udang, kulit rajungan, dan lain sebagainya.

Sedangkan dalam pembuatannya diperlukan beberapa proses tahapan yang cukup panjang. Heykal menambahkan, bahwa cangkang bekicot yang sudah digiling dan menjadi serbuk kemudian ditambah dengan larutan tertentu agar kandungan yang ada pada cangkang seperti protein, mineral, zat besi menjadi hilang, sehingga didapatkan kitosan.

”Kitosan tersebut nantinya akan ditambahkan ke dalam Glass Ionomer Cement (GIC) sehingga diharapkan hasil dari produk GIC tersebut mampu memiliki sifat karateristik mekanis yang sesuai standar medis yang akan digunakan sebagai bahan restorasi gigi, sehingga mampu dikembangkan sebagai jenis biomaterial dengan karakter dan kinerja pemulihan untuk gigi sehingga mengurangi prevelensi pada kerusakan gigi, khususnya karies,” lanjut Heykal mengakhiri penjelasannya. (*)

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone