eyeliner
RANGKAIAN magnet-magnet hasil inovasi Zulfa dan kawan-kawan dalam PKM-KC FST UNAIR, menghasilkan listrik yang efisien dan renewable. (Foto: Dok PKM-KC)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Di era globalisasi ini, teknologi bukan hal asing bagi kita. Teknologi-teknologi baru pun telah banyak ditemukan. Manfaat–manfaat yang diberikan mambuat angka kebutuhan juga naik seiring berjalannya waktu.

Begitu juga dengan energy. Semakin lama kebutuhan manusia akan energi kian meningkat. Tetapi pada kenyataannya, kebutuhan yang semakin meningkat itu berbanding terbalik dengan  ketersediaaan energi yang ada di Indonesia, bahkan di dunia.

Berangkat dari permasalahan itulah, sekelompok mahasiswa S-1 prodi Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga, yaitu Zulfa Zahiroh, Mutia Rifda Amalia Hoesain, dan Nur Aidatuzzahro membuat inovasi baru, terkait dengan persoalan energi.

Inovasi tersebut berupa pembuatan teknologi pembangkit listrik tenaga magnet yang ramah lingkungan. Teknologi ini dinamakan ”Eco Friendly Electrical Neodymium Source Generator disingkat EYELINER. Gagasan inovatif itu selanjutnya dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC).

eyeliner
TRIO cewek anggota tim PKM-KC Unair terdiri Zulfa Zahiroh, Mutia Rifda Amalia Hoesain, dan Nur Aidatuzzahro sedang berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya dalam karya EYELINER. (Foto: Istimewa)

Dibawah arahan dosen pembimbing Dr. Ir. Soegianto Soelistiono, M.Si., proposal karya Zulfa Zahiroh Dkk tersebut lolos dalam seleksi Dikti, sehingga berhasil memperoleh pendanaan dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2018.

“Sebenarnya alat ini memiliki konsep memanfaatkan perubahan fluks magnet, dengan tujuan mengoptimalkan daya medan magnet ketika berada di kumparan, sehingga perubahan medan magnet yang kontinyu itu akan menghasilkan arus listrik,” kata Zulfa, mewakili timnya sebagai ketua peneliti.

Selain itu, alasan tim ini membuat alat ini dikarenakan Indonesia saat ini sedang menghadapi masalah serius, yaitu masalah ketahanan energi. Konsumsi energi yang meliputi minyak, gas,  dan batu bara, di Indonesia mengalami peningkatan hingga 5,9% pada tahun 2016.

”Jadi dalam 20 tahun terakhir, tingkat konsumsi tersebut meningkat dua kali lipat, sedangkan peningkatan yang tercepat terjadi dalam lima tahun terakhir,” imbuh Zulfa Zahiroh.

Analisis teori perhitungan yang digunakan dalam penelitian ini juga banyak berkisar pada hitungan energi mekanik, momen magnetik, medan magnetik, dan persamaan Maxwell. Hal ini diperkirakan dapat menghasilkan output energi yang besar melalui sumber magnet yang jarang diperhatikan sebelumnya.

”Teknologi yang kami inovasi ini memiliki beberapa keuntungan, diantaranya merupakan energy yang renewable atau tidak bisa habis, lalu tidak memerlukan biaya operasional serta perawatan yang cukup banyak. Hal itu karena menggunakan sumber energi magnet yang berputar terus-menerus, sehingga dapat dioperasikan pada kondisi cuaca apapun dan dimanapun karena bentuknya yang portable dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi gas berbahaya,” tambah Zulfa.

Dengan teknologi tim PKM-KC dari FST UNAIR ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil (bensin dan solar), sehingga ketahanan energy nasional di masa mendatang tetap terjamin dan tentunya aman bagi lingkungan hidup. (*)

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
  • Christian Dwi Wijaya

    Terlepas dari status pak Soegianto yang pernah berkontribusi dalam “jurnal” Bumi datar, saya penasaran apakah klaim “energi yang tidak akan habis” itu benar. Dari hukum thermodinamika saja sudah ga masuk, magnet pun akan berkurang kekuatannya seiring waktu.

    Tapi okelah, siapa tau aja bisa jadi pemenang Nobel fisika berkat penemuan ini :v