pro-gensine
PROTOTIPE alat Pro-Gensine (Propulsor and Generator Ship Engine), diantaranya baling-baling angin dan kumparan pembangkit listrik, berserta tiga mahasiswa FST UNAIR yang membuatnya. (Foto: Dok PKM-KC FST)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga berhasil membuat mesin penggerak kapal sekaligus pembangkit listrik kapal penangkap ikan dengan menggunakan teknologi berbasis eco-anemo magnetic. Yaitu memanfaatkan tenaga angin dan magnet untuk menghasilkan sumber energi listrik yang sekaligus sebagai penggerak mesin kapal.

Ketiga mahasiswa kreatif itu adalah Eduardus Oldi Kristianto, dan dua anggotanya Leni Manggarsari dan Siti Nurmala. Mereka tergabung dalam kelompok Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) FST UNAIR.

Laporan keberhasilan mereka yang disusun dengan judul “Pro-Gensine (Propulsor and Generator Ship Engine): Dual Mesin Kapal Penangkap Ikan Berbasis Eco-Anemo Mahnetic yang Efisien, Low-Cost dan Ramah Lingkungan” lolos penyeleksian Dikti. Karenanya berhal mendapat dana pengembangan dari Kemenristekdikti dalam agenda Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2018.

Dijelaskan oleh Eduardus Oldi Kristianto, sebagai ketua Tim PKM-KC ini, tim melakukan inovasi ini karena melihat permasalahan yang terjadi di Indonesia. Sebagai negara maritim dengan 70% wilayahnya berupa perairan, tentu saja sebagian besar penduduk Indonesia dengan mata pencaharian sebagai nelayan.

Sedangkan, komponen utama nelayan dalam menangkap ikan, diantaranya adalah perahu atau kapal. Dalam moda penangkap ikan tersebut umumnya menggunakan mesin penggerak dan mesin pembangkit berbahan bakar fosil, seperti bensin dan solar. Dengan demikian menjadikan konsumsi bahan bakar fosil semakin meningkat. Sedangkan bahan bakar itu juga digunakan hampir untuk semua lini kehidupan, termasuk sebagai energi pembangkit listrik.

Kristianto menyodorkan data dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT tahun 2014, dimana penggunaan bensin mencapai sebesar 50% dan minyak solar sebesar 37%. Hal ini tentu saja menyebabkan bensin dan solar menjadi energi paling dominan yang digunakan oleh masyarakat Indonesia.

”Jika hal ini terjadi secara terus-menerus, tidak mustahil cadangan energi fosil di Indonesia akan terancam habis. Selain itu penggunaan bahan bakar fosil, dalam hal ini solar dan bensin, dapat menghasilkan emisi gas buang berbahaya yang kurang ramah lingkungan,” kata Kristianto.

Gas emisi buang ini jika terakumulasi dalam jumlah besar juga dapat mengganggu ekosistem laut, termasuk ikan-ikan yang ada di dalamnya.

”Berdasar permasalahan itulah muncul gagasan dari kami untuk mencoba membuat alat bernama Pro-Gensine (Propulsor and Generator Ship Engine), mesin penggerak sekaligus sebagai pembangkit listrik di kapal penangkap ikan,” katanya.

Teknologi mesin yang disebutnya berbasis eco-anemo magnetic adalah memanfaatkan tenaga angin dan magnet untuk menghasilkan sumber energi listrik, sekaligus sebagai penggerak mesin kapal.

Prinsip kerja Pro-Gensine yaitu memanfaatkan gaya gerak listrik yang dihasilkan dari pergerakan magnet dengan lilitan kawat yang dibantu dengan tenaga angin untuk kemudian  menghasilkan energi listrik.

Jadi, inovasi Tim PKM-KC Kristianto Dkk ini terletak pada sumber energi yang digunakan dan desain alat yang memungkinkan untuk menghasilkan energi penggerak dan pembangkit mesin kapal penangkap ikan yang lebih besar.

Selain itu, Pro-Gensine tidak menggunakan bahan bakar fosil, sehingga dapat meningkatkan efisiensi kerja mesin kapal dan mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh nelayan. Hal ini karena pembuatan alat dan perawatannya yang relatif murah.

Dengan prinsip kerja mesin dan bahan bakar yang digunakan, alat Pro-Gensine ini dapat membantu mempertahankan keberlanjutan lingkungan Indonesia menjadi lebih sehat, karena mengurangi penggunaan energi fosil (solar dan bensin). Sehingga dapat menghemat biaya dan meningkatkan pendapatan nelayan sekaligus perekonomian Indonesia. (*)

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone