Antonia Vania Adji terpilih menjadi wisudawan terbaik S1 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Berawal dari skripsi yang berjudul “Hitopathological Alterations of Ceca in Broiler Chickens (Gallus gallus) Exposed to Chronic Heat Stress” Antonia Vania Adji, S.KH., terpilih menjadi wisudawan terbaik S1 Pendidikan Dokter Hewan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga. Ia mampu membukukan IPK sangat memuaskan, yaitu 3,96.

Dalam penelitian itu, Vania –sapaan akrabnya– membahas analisis perubahan morfologi vili cecum ayam yang dipapar panas periodik selama 42 hari. Pengerjaan penelitian tersebut bukan tanpa satu kendala atau kegagalan. Terdapat beragam hambatan yang turut mengiringi pencapaian raihan gelar wisudawan terbaik Vania. Salah satunya adalah tidak bisa terselesaikannya skripsi pada semester VII.

Sementara itu, ditanya mengenai tema bahasan skripsinya, perempuan lulusan Frateran Catholic Senior High School tersebut melakukan penelitian yang berkaitan dengan isu Global Warming. Ketertarikan itu muncul karena suhu bumi makin panas. Bisa saja itu menganggu kesehatan dan produktivitas ayam pedaging. Selain itu, skripisi Vania melengkapi penelitian yang berkaitan dengan efek heat stress ke ayam.

”Duka lainnya saat mengerjakan skripsi adalah berhubungan dengan tubuh. Kurang tidur dan stres dikejar dengan deadline,” ujarnya.

“Saya suka karena bisa lebih paham tentang manajemen ayam broiler atau pedaging dan tentang pentingnya dan bahayanya heat stres,” tambah perempuan penerima beasiswa Yayasan Marga Pembangunan Jaya dan Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) tersebut.

Raihan IPK cum laude mampu membuat Vania bangga. Sebab, itu menjadi bagian perjuangannya untuk membahagiakan semua orang, terutama orang tuanya.

Selain itu, kesibukan Vania menjadi asisten dosen patologi veteriner pada 2017 menjadi titik semangat dalam menyelesaikan skripsinya. Termasuk keaktifan Vania dalam berbagai kegiatan, baik dalam maupun luar, kampus.

“Semua yang sekarang dirasa berat itu sebuah proses. Tetap jalani saja. Nanti pasti ada ending-nya. Dan, setiap orang memiliki jalan yang berbeda,” tuturnya. (*)

Penulis: Rolista Dwi Oktavia

Editor: Feri Fenoria Rifai

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone