Nursita Afifah menjadi wisudawan berprestasi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga periode Juli 2018. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Nursita Afifah merasa bangga dan lega setelah ditetapkan sebagai mahasiswa berprestasi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga pada wisuda periode Juli 2018. Perempuan kelahiran Kediri, 3 November 1995, itu memiliki segenap prestasi yang membanggakan.

Salah satunya adalah Juara I Design Intervention competition pada 2016. Yakni, sebuah perlombaan yang diadakan Universitas Katolik Widya Surabaya. Dan, Juara I Psychoessay Nasional Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Dibalik prestasi yang diraihnya, Nursita memiliki kesibukan sebagai Asisten Asesor di Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Psikologi Terapan (LP3T) Fakultas Psikologi UNAIR. Selain itu, dia aktif mengikuti kegiatan di dalam maupun luar kampus.  Salah satunya, pengabdian masyarakat di Kota Kediri, yaitu Psikologi Kesejahteraan Mental Siswa.

”Juga pernah menyiapkan keperluan pendirian biro penyedia layanan psikologi,” katanya.

“Tidak ada prestasi yang menonjol karena masih dalam lingkup lokal dan nasional. Dalam setiap kompetisi yang saya ikuti, terdapat behind the scene yang tidak terlupakan,” imbuhnya.

Menurut Nursita, lomba yang paling berkesan adalah Juara II Social Intervention Design Competition yang diselenggarakan Universitas Airlangga. Sebab, lomba itu mampu membawa Nursita ke ibu kota yang dicita-citakannya sejak kecil, yaitu melihat Monas.

Dan, lomba itu mendorong Nursita untuk merancang sebuah desain intervensi atau solusi yang bisa diterapkan untuk suatu isu sosial. Ketika final kompetisi itu digelar, dia harus begadang dan membaca serta mencermati sembilan naskah proposal rancangan intervensi milik tim lainnya.

“Prestasi bisa terjadi karena tiga hal. Yakni, izin dari Allah, kemauan, dan usaha menjemput kesempatan yang ada. Sebab, prestasi tidak hanya berupa output bisa dengan membahagiakan orang tua, bekerja sambil kuliah,” tuturnya.

Menurut Nursita, mungkin bagi sebagian orang, kuliah itu biasa, tapi ternyata sangat luar biasa. Sebab, itu adalah kesempatan untuk mengenal dan mengoptimalkan diri dengan mendorong diri dalam merealisasikan pemahaman menjadi sebuah tindakan. (*)

Penulis: Rolista Dwi Oktavia

Editor: Feri Fenoria Rifai

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone