insulin
ALBUMIN-Insulin yang dihasilkan dari penelitian PKM-PE Adi Rahmatji Dkk. Nanokapsul albumin-insulin ini diharapkan dapat menjadi metode terapi terbaru dan ramah bagi penderita diabetes millitus. (Foto: Dok. PKM-PE)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa Universitas Airlangga anggota kelompok Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) berhasil membuat nanokapsul insulin sebagai solusi terapi pengobatan diabetes mellitus (DM) secara oral. Diharapkan, nanokapsul albumin-insulin ini dapat menjadi metode terapi terbaru yang lebih mutakhir dan ramah bagi penderita DM, terutama pasien dengan Trypanophobia.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Adi Rahmatji (22) dan Dimas Noor Asyari (21) dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) serta Novianti Tysmala Dewi (21) dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga Surabaya.

Dibawah arahan dosen pembimbing M. Zakki Fahmi, M.Si., Ph.D., proposal penelitian mereka berjudul Nanoenkapsulasi Bovine Serum Albumin Terhadap Insulin Sebagai Solusi Terapi Pengobatan Diabetes Melitus Secara Oral lolos seleksi dan mendapat dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam PKM 2018.

Diterangkan oleh Adi Rahmatji, ketua tim peneliti, diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit metabolik dan kronis yang disebabkan oleh sekresi insulin yang tidak mencukupi dan berkurangnya sensitivitas insulin. Mengutip laporan dari International Diabetes Federation (IDF), sebanyak 415 juta orang dewasa di dunia terkena DM. Kemudian diperkirakan meningkat menjadi 642 juta orang pada tahun 2040.

Indonesia menempati urutan ketujuh sebagai penderita diabetes terbesar di dunia. Jumlah penderita DM di Indonesia diperkirakan mencapai 10 juta orang. Sedangkan data nasional, hasil catatan dari Riset Kesehatan Daerah (Riskesdas) 2013, tingkat prevalensi diabetes di Indonesia sebesar 6,8%.

Menurut Adi, saat ini terapi penyembuhan diabetes mellitus yang paling sering dilakukan adalah Injeksi insulin subkutan. Namun, terapi jenis ini merupakan tantangan tersendiri bagi pasien yang memiliki Trypanophobia. Injeksi insulin yang dilakukan setiap hari itu berpotensi  menyebabkan infeksi, hipertrofi local, dan timbunan lemak di tempat suntikan.

”Karena itu perlu adanya pengembangan terapi baru, yaitu secara oral,” kata Adi Rahmatji.

Terapi diabetes secara oral yang ditemukan itu dapat mengurangi ketidaknyamanan dan kekurangan metode injeksi konvensional. Diakui memang ada beberapa hambatan dalam penerapan terapi insulin secara oral kedalam tubuh penderita DM, salah satunya adalah degradasi insulin oleh pH lambung yang bersifat asam.

Karena itu, untuk melindungi insulin dari degradasi pH asam lambung tersebut diperlukan suatu pengemas (kapsul), sehingga dapat meningkatkan kemampuan delivery insulin. Proses ini dinamakan enkapsulasi.

”Dalam penelitian ini kami mengemas menggunakan Bovine serum albumin (serum darah sapi) yang juga sering dimanfaatkan sebagai drug carriers. Selain itu karena harganya murah, proses pemurniannya mudah, biokompatibilitasnya tinggi dan bersifat non-toksik,” kata Adi.

Guna meningkatkan kemampuan delivery insulin, kapsul dibuat dalam ukuran nano atau biasa disebut nanokapsul. Semakin kecil ukuran obat, maka luas permukaan akan meningkat sehingga kemampuan penghantaran obat juga lebih meningkat. Teknologi nanopartikel saat ini telah menjadi tren baru dalam pengembangan sistem penghantaran obat.

Ukuran nanokapsul Insulin ini juga telah diuji. Ketika diuji dengan Particle Size Analyzer (PSA) menunjukkan ukuran nanokapsul berada diantara 250 nm hingga 740 nm. Pengujian dengan FTIR (Fourier Transform Infrared) menunjukkan adanya ikatan N-H dan C=O yang menjadi ciri khas suatu protein.

”Kemudian hasil pengujian secara in vitro dengan membrane dialysis pada pH 1,2 insulin mampu release hingga sebesar 55% dan 82% pada pH 7,4 (pH usus) dalam kurun waktu dua jam,” kata Adi seraya mengulang harapannya bahwa nanokapsul albumin-insulin ini dapat menjadi metode terapi terbaru yang lebih mutakhir dan ramah bagi penderita DM, terutama pasien DM yang dengan Trypanophobia. (*)

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone