radang paru
ANGGOTA Tim PKM-PE Akhmad Afifudin Al-Anshori (tengah) didampingi dua rekannya dalam meneliti daun ashitaba (Angelica keiskei) sebagai terapi radang baru akibat asap rokok. (Foto: dok PKM-PE)
ShareShare on Facebook50Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kolaborasi mahasiswa Fakultas Kedoktean Hewan (FKH) dengan mahasiswa Fakultas Farmasi (FF) Universitas Airlangga dalam penelitiannya menemukan terapi alternatif penyembuhan radang paru yang disebabkan oleh asap rokok. Alternatif penyembuhan itu melalui sediaan nano spray inhaler ekstrak daun ashitaba (Angelica keiskei).

Mahasiswa inovatif tersebut adalah Akhmad Afifudin Al-Anshori dan Indah Tri Lestari, mahasiswa FKH angkatan 2016, serta Diah Ayu Retanti, mahasiswa FF angkatan 2015. Penelitiannya itu mereka tuangkan proposal Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) berjudul “Pemberian Nano Spray Inhaler Daun Ashitaba (Angelica keiskei) terhadap Kesembuhan Radang Paru Mencit yang Terpapar Asap Rokok”.

Dibawah bimbingan Dr. Lilik Maslachah., M.Kes., drh, proposal ilmiah ini berhasil lolos seleksi Dikti, sehingga berhak atas dana penelitian program PKM tahun 2017-2018 dari Kemenristekdikti.

Dijelaskan oleh Akhmad Afifudin Al-Anshori, sebagai ketua tim peneliti, penyakit radang paru merupakan salah satu masalah besar dunia kesehatan. Penyakit ini menyebabkan tingginya angka kematian, khususnya di Indonesia yang menempati urutan terbesar ke-6 dunia dalam kasus radang paru tahun 2013. Kemudian menurut hasil Riskesdas 2013, tercatat lima provinsi di Indonesia dengan insiden radang paru tertinggi untuk semua umur, yaitu Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan.

Dipilihnya Ashitaba, kata Afifudin, merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi besar sebagai obat tradisional. Hampir seluruh bagian tanaman ashitaba secara empiris telah digunakan masyarakat sekitar Perkebunan Ashitaba di Desa Ketapanrame, Trawas, Kab. Mojokerto untuk obat beberapa penyakit, misalnya diabetes, hipertensi, dsb.

Pada bagian daun ashitaba terdapat kandungan senyawa kimia flavonoid, triterpenoid, dan tanin yang memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dibandingkan dengan bagian lain. Kandungan senyawa itu sehingga mampu menjaga organ tubuh dan memperbaiki kerusakan sel akibat  radikal bebas dan memperlambat proses penuaan.

radang paru
PROSES penelitian obat terapi radang paru dari daun Ashitaba di Laboratorium UNAIR. (foto: dok PKM-PE)

Kerusakan jaringan paru yang disebabkan oleh asap rokok, kata Afif, juga dapat diperbaiki  dengan pemberian aktioksidan. Sebab antioksidan ini dapat melawan senyawa radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektron yang dimiliki radikal  bebas, dan menghambat terjadinya reaksi berantai yang dapat menimbulkan terjadinya kerusakan sel tubuh.

Ditambahkan oleh Diah Ayu Retanti, bahwa nano spray inhaler merupakan teknologi nanopartikel yang diaplikasikan pada terapi obat secara inhalasi. Terapi inhalasi merupakan satu teknik  pengobatan penting dalam proses pengobatan penyakit respiratori (saluran pernafasan) akut   dan kronik.

”Jadi dalam pengobatan penyakit radang paru dapat diberikan secara inhalasi, cara ini sangat efisien dan absorbsi terjadi secara cepat karena obat bisa langsung masuk ke paru-paru,” tambah Diah Ayu.

Lolos Uji

Ditambahkan oleh Afifudin, penelitian ini juga dilakukan pengujian invivo menggunakan hewan coba mencit jantan (Mus musculus) sejumlah 25 ekor yang diadaptasikan selama satu minggu. Penelitiannya menggunakan lima kelompok perlakuan yaitu K1, K2, P1, P2, dan P3. Kelompok K1 dan K2 merupakan kelompok kontrol dengan K1 tidak diberi paparan asap rokok dan tidak  diberi terapi nano spray inhaler.

Sedangkan K2 diberi paparan asap rokok namun tidak diberi terapi nano spray inhaler. Dilakukan pula perlakuan dengan variasi dosis nano spray inhaler pada kelompok P1, P2, dan P3 yang telah diberi paparan rokok.

Paparan rokok diberikan pada 1 kelompok mencit dengan satu batang/hari selama 28 hari.  Pada hari ke-29 kelompok perlakuan P1, P2, dan P3 diberi terapi nano spray inhaler setiap hari sekali selama 3 minggu dengan dosis masing-masing P1= 50 mg/kgBB/hari, P2= 200 mg/kgBB/hari, dan P3=  500 mg/kg/BB. Cara pemberian nano spray inhaler dengan menggunakan alat nebulizer.

Ditanya parameter apa saja yang akan diuji? Dijawab oleh Indah Tri Lestari, bahwa parameter yang diuji adalah perubahan alveolar emfisema, atelectasis, infiltration sel radang, iniltasi eritrosit, penebalan septum alveoli, perivascular edema dan peribronchiolar edema yang terdapat di gambaran histopatologi paru.

Akhmad Dkk berharap hasil penelitian ini dapat menjadi referensi ilmiah dalam meningkatkan kesehatan paru, menjadi referensi ilmiah terkait kemampuan ekstrak daun ashitaba dalam sediaan nano spray inhaler, dan menjadi rujukan bagi kesembuhan radang paru pada penelitian dengan model hewan coba mencit. (*)

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook50Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).