bawang putih
GEL etosom yang dihasilkan dari proses sonikasi dengan alat sonikator dari bawang putih. Sebuah inovasi untuk pengobatan hipertensi. (Foto: Dok PKMPE)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Hipertensi merupakan gangguan kesehatan yang banyak dialami masyarakat. Gangguan tekanan darah tinggi itu merupakan peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan tenang/istirahat.

Peningkatan hipertensi yang berlangsung lama, tidak dideteksi secara dini serta tidak mendapatkan pengobatan yang memadai, dapat menimbulkan penyakit jantung koroner, iskemik, penyakit pembuluh darah perifer, gangguan penglihatan, dan stroke hemoragik.

Seperti direlease oleh World Health Organization (WHO), pada tahun 2016 terdapat data statistik bahwa hipertensi menyumbang 12,8% kematian, atau sekitar 7,5 juta dari 58,6 juta jiwa meninggal di Indonesia. Sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis secara baik. Untuk itu, pencegahan dan pengobatan yang aman dan efektif untuk hipertensi sangatlah diperlukan, mengingat hipertensi merupakan silent killer, penyumbang angka kematian tertinggi di Indonesia.

Sampai saat ini pengobatan hipertensi masih bertumpu pada obat-obatan sintesis yang memiliki kadar bahan aktif sama. Namun, dibalik kelebihan obat sintesis itu, jenis obat ini dapat menimbulkan efek samping, diantaranya detak jantung yang melambat sehingga suplai oksigen dari jantung ke seluruh tubuh akan mengalami penurunan.

Menurut Beatrice, mahasiswa Farmasi UNAIR ketua PKM-PE ini, salah satu sistem penyembuhan hipertensi yang lebih aman adalah dengan menggunakan tanaman herbal seperti bawang putih. Mengapa bawang putih? Karena mengandung allysin yang mempunyai fungsi fisiologis antihipertensi, antikanker, dan kolesterol.

Namun bawang putih memiliki bau dan rasa yang kurang diminati masyarakat. Sehingga memerlukan suatu inovasi sediaan obat antihipertensi dari ekstrak bawang putih yang akan lebih diminati, yaitu obat antihipertensi dari bawang putih dalam sediaan gel etosom.

Menilik dari hal yang telah dipaparkan diatas, tiga mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Airlangga yaitu Beatrice, Dyoko Gumilang Sudibyo, dan Naufal Dhifari Ramadhan, dengan arahan dosen pembimbing Sugiyartono, Dr., MS., Apt., melakukan penelitian pengembangan sediaan gel etosom sebagai solusi obat antihipertensi yang aman dan aseptabel dengan bahan aktif ekstraksi diallyl sulfide yang teroksidasi menjadi allysin dari umbi bawang putih.

Tiga mahasiswa itu kemudian menuliskan penelitiannya dalam proposal PKM-PE dengan judul “Pengembangan Sediaan Gel Etosom Bawang Putih (Alliun sativum L.) sebagai Solusi Obat Antihipertensi yang Aman dan Aseptabel.” Proposan ini berhasil lolos seleksi dan berhak ada pendanaan penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2018.

”Pemilihan sediaan gel etosom itu karena gel ini terbukti mampu menembus kulit, dan memungkinkan penghantaran senyawa kimia dari permukaan kulit ke dalam berbagai stratum kulit, bahkan ke sirkulasi sistemik. Dan produk yang telah selesai dalam proses pembuatan sediaan harus melewati uji karakteristik fisik dan uji efektivitas obat yang dicobakan pada tikus (mencit),” kata Beatrice, selaku ketua Tim PKM-PE ini.

Kedepan, Beatrice Dkk berharap produk ini mampu menjadi sebuah inovasi pengobatan hipertensi yang aman dan aseptabel. Selain itu juga menjadi pijakan pengembangan obat antihipertensi dari ekstraksi bawang putih dalam sediaan gel etosom. (*)

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone