Rinda Setia Indrianti berhasil menyabet gelar wisudawan terbaik S1 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga periode Juli 2018. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Memanfaatkan kesenian dan kebudayaan asal daerahnya sebagai tema penelitian, Rinda Setia Indrianti berhasil menyabet gelar wisudawan terbaik S1 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Perempuan yang akrab disapa Rinda itu mengangkat judul skripsi ‘’Kehidupan Keseharian Pemain Reog di Ponorogo Tahun 1965 – 1995’’.

Penelitian Rinda menekankan pada kehidupan sehari-hari pemain Reog di Ponorogo dan perubahan-perubahan besar yang mereka alami dalam kurun waktu 1965-1995. Menurut Rinda penelitian mengenai kehidupan keseharian sendiri masih sangat jarang dilakukan.

“Banyak hal menarik dalam kehidupan pemain reog seperti dinamika hubungan warok dan gemblak yang disalahpahami sebagai hubungan homoseksual. Hingga pada suatu saat mereka terkucilkan padahal sebelumnya mereka menempati posisi sangat terhormat di masyarakat,” paparnya.

Menurut wisudawan asli Ponorogo itu, pemain Reog juga pernah dijadikan alat politik pemilu 1965 dan dijadikan kambing hitam, dituduh terlibat PKI hingga banyak pemain yang dibunuh dan disiksa hingga sampai tahun 1969 pemain Reog tidak berani tampil lagi.

“Di masa orde baru pun mereka masih harus berhadapan dengan represi dan campur tangan pemerintah,” tandasnya.

Ditanya mengenai kesibukan selama kuliah, Rinda mengatakan bahwa ia kerap mengikuti kepanitaan baik dilingkup fakultas maupun universitas. Selain itu, ia mengaku juga melakukan kerja part time sebagai tutor les beberapa anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

“Sementara kesibukan di semester 8 saya gunakan untuk menjadi reporter untuk website FIB,” terangnya.

Pada akhir, beasiswa bidikmisi yang ia dapat menjadi motivasi untuk terus berusaha menghasilkan yang terbaik. Oleh sebab itu, baginya, kuliah bukan hanya sekadar mengejar gelar untuk mendapatkan pekerjaan. Tapi merupakan sebuah proses “enlightenment”.

“Kuliah di jurusan Ilmu Sejarah mampu merombak cara berpikir saya yang semula close minded, memandang dunia dengan kacamata hitam-putih serta bias menjadi lebih open minded,” pungkas wisudawan peraih IPK 3.93 itu. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone