Reza Affandi, Mahasiswa FK yang Berhasil Jadi Mawapres Nasional

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
M. REZA Affandi, mahasiwa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR), berhasil lolos dalam seleksi mahasiswa berprestasi tingkat nasional 2018. (Foto: Istimewa)
M. REZA Affandi, mahasiwa Fakultas Kedokteran (FK) dan mahasiswa berprestasi Universitas Airlangga 2018. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Dalam rangka mendorong peningkatan budaya akademik, khususnya kompetisi di kalangan mahasiswa, Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan melaksanakan beberapa program penunjang. Salah satunya adalah pemilihan mahasiswa berprestasi.

Reza Affandi, mahasiwa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR), berhasil lolos dalam seleksi mahasiswa berprestasi tingkat nasional 2018. Reza menjadi satu-satunya mahasiswa dari UNAIR yang memperoleh raihan itu.

Salah satu kriteria pemilihan kategori itu adalah kompetisi mahasiswa dalam menulis artikel ilmiah yang bersifat orisinal. Dalam hal tersebut, mahasiswa yang pernah menjadi delegasi dalam Japan International Student Exchange Program itu membuat karya tulis yang berjudul “Kontrol Kualitas Sistem Pelayanan Diabetes Melitus Berbasis Pay-for-performance: Menuju Strategi Komprehensif Menghadapi Penyakit Katastropik di Indonesia”.

“Kemarin waktu seleksi di fakultas dan universitas, saya membuat KTI (karya tulis ilmiah, Red) tentang manajemen informasi kesehatan dalam bentuk website yang bernama Atlas. Nama ini dipilih juga berdasar persepsi orang-orang bahwa Atlas adalah penyedia informasi spesifik terhadap topik tertentu,” ujarnya.

Reza mengungkapkan alasan memilih judul tersebut dalam proses seleksi fakultas dan universitas. Yakni, maraknya kriminalisasi dokter, banyak berita yang menyudutkan dunia kesehatan. Misalnya, gugatan kepada rumah sakit dan gugatan kepada dokter serta tenaga medis lainnya.

Selain itu, Reza sangat prihatin tentang kondisi masyarakat yang masih percaya terhadap mitos-mitos kesehatan. Termasuk banyaknya informasi kesehatan yang kurang tepat.

“Padahal, informasi tersebut susah tersebar di media massa, baik cetak maupun elektronik. Jadi, gagasan saya adalah menciptakan suatu sistem penyedia informasi kesehatan yang dikelola oleh kementerian atau didelegasikan atas tugas pemerintah untuk memperbaiki dan meluruskan hal-hal yang keliru itu,” ungkapnya.

Lantaran topik saat seleksi fakultas dan universitas berbeda dengan tingkat nasional, Reza bersama dosen pembimbingnya memutuskan untuk mengganti topik KTI. Yakni, menjadi ”Perbaikan Sistem Pelayanan BPJS Kesehatan untuk Mewujudkan SDGs Nomor 3”.

“Untuk teman-teman mahasiswa lainnya agar belajar lebih giat baik hardskill maupun softskill. Terutama beberapa skill yang akan dibutuhkan 10 hingga 20 tahun yang akan datang. Rajin mengikuti kompetisi agar meningkatkan daya saing,” tuturnya. (*)

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu