PEMANDANGAN indah Damar Kurung pada Situs Giri Kedaton pada malam hari, dilihat dari bukit Giri Kedaton. (Foto: Dok PKMM)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Pemasangan Damar Kurung di sekitar Gresik sebagai sebuah budaya lokal mulai banyak ditinggalkan generasi muda. Namun kehadiran lima mahasiswa Universitas Airlangga yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM) berhasil menumbuhkan kembali semangat pemuda Giri Kedaton, yaitu Karang Taruna “Sekar Kedaton” dan siswa-siswi MTs Ma’arif Sidomukti, kembali berkontribusi mengenalkan Situs Giri Kedaton dengan pemasangan damar kurung, sebentuk lampion khas Kabupaten Gresik.

Gebrakan tim PKMM mahasiswa UNAIR yang diketuai Muhammad Ainur Rofiq (FST) dengan anggota Ayu Ummi Maufiroh (FST), Ika Zulkafika Mahmudah (FKp), Muhamad Wahyu Hidayat (FISIP), dan Tia Eka Novianti (FKM) itu, yang dikemas dalam laporan berjudul “KERATON (Kultur Edukasi Giri Kedaton)” ini, berhasil lolos seleksi pendanaan Kemenristek Dikti dalam program PKM 2018.

Inovasi pemasangan kembali Damar Kurung di Situs Giri Kedaton ini juga mendapat bantuan dari founder Damar Kurung Institute, Novan Afandi, untuk menyelenggarakan workshop tentang budaya lokal Damar Kurung. Bahkan, Damar Kurung yang terpasang di Situs Giri Kedaton itu merupakan hasil karya pemuda Sekar Kedaton. Gambarnya menceritakan berbagai kisah kegiatan di bulan Ramadhan. Pemasangan Damar Kurung ini juga tidak lepas dari usaha keras para kader KERATON yakni Kartar Sekar Kedaton dan siswa MTs. Ma’arif Sidomukti yang tergabung dalam Kelompok Pemuda Peduli Budaya.

“Mewakili Karang Taruna dan pihak MTs. Ma’arif Sidomukti saya sangat bersyukur dengan adanya program PKMM ini. Selain mengajarkan kembali kepada pemuda untuk mengenal sejarah dan budaya, juga mengasah kreatifitas pemuda dalam literasi dan karya seni,” kata Imam Fanani, ketua Kartar Sekar Kedaton yang juga guru di Mts. Ma’arif Sidomukti.

”Kami meresmikan pemasangan Damar Kurung itu pada Sabtu 2 Juni 2018 lalu, tepat pada malam ke-18 Ramadhan 1439-H, ditandai pemotongan pita oleh juru kunci Situs Giri Kedaton, Bapak Mukhtar, serta dihadiri Dosen Pembimbing kami, Ibu Harsasi Setyawati, S.Si, M.Si,” kata M Ainur Rofiq, Ketua PKMM ini.

Damar Kurung itu dipasang di sepanjang anak tangga jalan menuju Situs Giri Kedaton. Keindahan Damar Kurung di malam hari dari atas bukit menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung dan wisatawan.

”Alhasil dengan pemasangan itu berhasil menjadikan Situs Giri Kedaton yang biasanya sepi, kini menjadi ramai pengunjung, terutama pada sore hingga malam hari dan Damar Kurung bisa dinikmati keindahannya,” tambah M Ainur Rofiq.

damar kurung
USAI peremian pemasangan Damar Kurung, antara mahasiswa UNAIR dan Kelompok Perduli Budaya di Gresik berfoto bersama dengan Juru Kunci Situs, Mukhtar (tengah). (foto: Dok PKMM)

Menurut Rofiq, berdasarkan hasil diskusi dengan kelompok peduli budaya di Gresik, pemasangan Damar Kurung selain selama bulan Ramadhan juga pada malam-malam tertentu untuk menumbuhkan ciri khas Damar Kurung sebagai daya tarik wisata sejarah.

“Dengan adanya Damar Kurung ini diharapkan dapat menarik pengunjung untuk datang ke Situs Giri Kedaton. Setelah Damar Kurung ini, akan ada launching buku yang berisi cerita dan informasi, buku itu karya Pemuda Kedaton serta display foto dan keterangan yang menjelaskan Situs Giri Kedaton,” tambah Ika, anggota Tim PKMM.

“Harapan kami, masyarakat yang datang kesini bukan hanya rekreasi dan untuk foto, tetapi juga dapat belajar tentang sejarah dan budaya,” kata Ika.

Disela peresmian juga dilanjutkan pemutaran video tembang dolanan peninggalan Sunan Giri dan dolanan tempo doloe yang dilantunkan oleh H. Oemar Zainuddin, seorang budayawan Gresik. Diantara tembang dalam video itu adalah Barisan Terikan Tempe, Duh Sangang Sasi, Arek Cilik Diulang Ngaji, dll.

“Sebagai orang tua, saya berharap masih ada pemuda yang peduli terhadap budaya yang ada, bahkan agar tetap berkembang dan tidak punah. Orang asing saja mau mempelajari budaya kita, jangan sampai kita pemiliknya malah lalai,” kata budayawan yang akrab disapa Pak Noot itu.

Dalam sesi permainan dolanan tempo doloe itu diajarkan oleh pemuda Giri Kedaton kepada anak-anak pengunjung yang mulai ramai berdatangan hingga tengah malam. Dolanan yang dimainkan antara lain Cublak-Cublak Suweng dan Jamuran yang dulu pernah diajarkan oleh Sunan Giri. (*)

Editor : Bambang Bes

 

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone