Menikmati Puasa di Negeri Sakura

UNAIR NEWS – Banyak kisah dan cerita, bagi mereka, umat muslim yang menjalankan ibadah puasa di luar negeri. Terlebih, jika negeri yang dikunjungi  merupakan negeri dengan umat muslim yang minoritas. Tentunya, ada suasana yang berbeda ketika menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan antara di Indonesia dan negeri orang tersebut.

Afifah Nur Rosyidah, salah satu alumni Universitas Airlangga akan berbagi cerita mengenai bulan Ramadhan yang dijalaninya di negeri sakura, Jepang. Saat ini, perempuan yang akrab disapa Afifah itu tengah melakukan Special Research Student di Kumamoto University, Computer and Electrical Engineering Department, Jepang.

Dihubungi UNAIR NEWS via WhatsApp pada Jumat (8/6), menurut Afifah, bulan Ramadhan di Jepang tidak memiliki peringatan yang khusus. Aktivitas berjalan layaknya seperti bulan-bulan yang lainnya. Tentunya, berbeda dengan di Indonesia, di Jepang saat siang hari di bulan Ramadhan orang-orang terang-terangan makan di tempat umum.

“Jadi seperti puasa sendirian. Dan itu lumrah bagi kami, karena muslim di sini kan minoritas,” ucapnya.

Meski demikian, ada sesuatu yang menurut Afifah merupakan hal yang spesial. Afifah menceritakan bahwa di Kumamoto terdapat banyak penduduk Islam. Yang mana, penduduk dari setiap negara digilir untuk menyiapkan makanan berbuka.

“Ya kayak di Indonesia sih, menyiapkan takjil dan makanan beratnya,” tambahnya.

Uniknya, lanjut Afifah, makanan yang dipersiapkan selama sebulan penuh hanya makanan yang sesuai dengan lidah orang Arab. Seperti kurma, apel, pisang, semangka, jus, dan makanan berat yang selalu dengan menu kare.

“Pernah sekali pas jadwal penduduk Indonesia, kami masak dan membuat nasi campur. Sedihnya gak payu (laku, red), cuma orang Indonesia saja yang suka,” tambahnya.

Mengenai ibadah lain seperti salat tarawih, sebelum bulan Ramadhan tiba, Afifah dan rekannya sesama muslim mendatangi dosen laboratoriumnnya untuk meminta izin agar bisa melaksanakan salat tarawih. Hal itu dikarenakan aktivitas laboratorium berlangsung sampai malam.

Alhamdulillah tidak menyangka saat kami menyampaikan hal demikian, kami diberi izin oleh sensei (guru, red),” ucapnya.

Mengenai perbedaan dengan di Indonesia, Afifah mengatakan bahwa jika di Indonesia bulan Ramadhan menjadi momen istirahat dan fokus ibadah. Saat bulan Ramadhan, jam kerja di Indonesia akan dikurangi. Sedangkan pada malam hari masjid penuh dan ramai dengan suara tadarus.

“Yang pasti di Indonesia kita puasa bareng-bareng,” tambahnya.

Walaupun sudah menjadi anak rantau sejak tahun 2009, Afifah mengaku berkumpul dengan keluarga dan puasa di rumah menjadi hal yang selalu dirindukanya. Menurutnya, Ramadhan di rumah adalah Ramadhan yang paling sehat dan menjadi momen yang bikin baper.

“Jadi kangen rumah kalau ingat momen seperti ini,” pungkasnya.

Penulis: M. Najib Ramhan

Editor: Nuri Hermawan