Meneladani Tokoh dalam Cerita Lama untuk Ketangguhan Generasi Muda

UNAIR NEWS – Meneliti ketangguhan tokoh dalam cerita lama kemudian menyosialisasi agar diteladani oleh generasi muda, mengantarkan makalah tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH) Universitas Airlangga yang diketuai Mohamad Afif Ma’ruf, lolos hibah penelitian Kemenristekdikti dalam program PKM 2018.

Ketangguhan tokoh cerita lama yang diadopsi untuk disosialisasikan itu dikemas dalam judul penelitian ”Eksplorasi Nilai Ketangguhan Ki Honggolono dalam Sejarah Perseteruan Desa Mirah dan Desa Golan di Kabupaten Ponorogo”. Selain M Afif, tim PKM-PSH ini juga beranggotakan Rerica Dhea Shavila dan Aisyah Nusa Ramadhana, ketiganya mahasiswa prodi Ilmu Administrasi Negara, FISIP UNAIR.

Menurut Moh Afif, Indonesia memang dikenal sebagai negara 1001 certa. Entah itu legenda, cerita rakyat, kisah masa lalu, yang secara turun temurun diwariskan leluhur. Cerita-cerita itu masih hidup dalam keyakinan masyarakat. Jika cerita itu berupa larangan, pantangan, atau petunjuk, masyarakat masih meyakini dan tidak berani melanggar.

Ketokohan dibalik cerita perseteruan dua desa, yaitu Desa Mirah dan Desa Golan, di Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, memang layak direkomendasi untuk diteladani generasi muda. Setelah dianalisis, ketangguhan Ki Honggolono, tokoh dalam kisah itu, terdapat nilai-nilai positif dalam tiga unsur yang layak diteladani. Ketiganya adalah untuk komitmen tinggi, kontrol diri, dan semangat menghadapi tantangan.

”Tim kami merekomendasi untuk disosialisasikan kepada masyarakat umum dan generasi muda agar dapat mengadopsi nilai-nilai ketangguhan dalam diri Ki Honggolono untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Agar generasi muda tetap tangguh dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan,” kata Moh Afif.

Rekomendasi itu disampaikan melalui seminar yang diadakan Moh Afif Dkk, 20 Mei 2018 lalu di Ponorogo. Seminar itu dihadiri perwakilan perangkat desa dan Karang Taruna, yang tujuannya untuk memberikan wawasan terkait nilai ketangguhan Ki Honggolono tersebut.

Rahmat, perwakilan Kartar Desa Mirah, menyatakan optimis dengan wawasan ketangguhan ini akan mampu mendukung pola pikir warga kedua desa untuk berubah, berpemikiran terbuka, dan warga kedua desa bisa bekerjasama mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Lima Sabda yang Dipatuhi

Bagaimana kisah ketangguhan dari cerita perseteruan Desa Golan dan Desa Mirah yang masih dipercaya hingga saat ini? Kronologi kisahnya, bermula dari konflik masa lampau antara dua tokoh sakti di dua desa itu; yaitu Ki Ageng Mirah dan Ki Ageng Honggolono.

Secara geografis, kedua desa ini berada di satu kawasan, hanya dipisahkan oleh aliran sungai. Namun masyarakat kedua desa tidak pernah dan tidak berani melakukan kontak sosial dengan kegiatan bersama-sama di satu lokasi atau melakukan kerjasama.

Uniknya, jika sebuah konflik berakhir dengan kekerasan, dalam cerita ini berbanding terbalik, tetapi diyakini masyarakat ”harus berseteru” hanya demi menjaga tradisi warisan leluhur, bahkan mereka pun tidak berani melanggar sabda-sabda-nya.

meneladani tokoh
GAPURA jalan menuju makam Ki Ageng Honggolono di Desa Golan, Kec. Sukorejo, Kab. Ponorogo. Menyimpan sabda yang masih dipercayai masyarakat. (Foto: Dok PKMPSH)

Siapakah Ki Honggolono dan Ki Ageng Mirah? Pada masa lalu, di Desa Golan hiduplah Ki Ageng Honggolono, tokoh terkenal, sakti, dan gagah berani. Sehingga disegani masyarakat. Karena kelebihannya itu, pemerintah mengangkatnya menjadi Palang (kepala desa). Ia punya adik sepupu bernama Ki Honggojoyo, tinggal di Desa Mirah dan dikenal sebagai Ki Ageng Mirah.

Singkat cerita, Ki Honggolono punya putera tampan bernama Joko Lancur. Sedang Ki Ageng Mirah mempunyai anak puteri cantik bernama Dewi Amirah. Kedua anak ini saling jatuh cinta. Demi kebahagiaan anaknya, Ki Honggolono bersedia untuk melamarkan Dewi Amirah untuk Joko Lancur. Pergilah Ki Honggolono ke tempat Ki Ageng Mirah.

Karena perbedaan keyakinan, Ki Ageng Mirah tidak setuju, sehingga persyaratan lamaran pun dipersulit agar tidak bisa dipenuhi oleh Joko Lancur. Syarat pertama, Ki Ageng Mirah minta dalam waktu semalam saja untuk dibuatkan bendungan Sungai Golan untuk mengairi sawah. Kedua, meminta seserahan padi dan kedelai masing-masing satu lumbung. Seserahan itu tidak boleh diantarkan, tetapi lumbung harus berjalan sendiri ke Desa Mirah.

Dengan kesaktiannya, Ki Honggolono bisa memenuhi semua permintaan Ki Ageng Mirah. Ia minta bantuan murid-muridnya mengumpulkan padi dan kedelai. Namun lumbung tidak terisi penuh akibat padi dan kedelai itu selalu dicuri oleh roh halus suruhan Ki Ageng Mirah.

Ki Honggolono jengkel. Diisilah lumbung itu dengan damen (jerami padi) dan titen (kulit kedelai). Jerami dan titen itu disabda berubah menjadi padi dan kedelai. Lalu bendungan sungainya, Ki Honggolono minta bantuan Bajul Kawor (raja buaya) yang memerintahkan ribuan buaya untuk saling tumpang-tindih membendung air sungai Golan untuk dialirkan ke Desa Mirah.

Setelah semua persyaratan siap, berangkatlah Joko Lancur diiringi Ki Honggolono dan warga Golan menuju Desa Mirah. Namun Ki Ageng Mirah di depan murid dan tamu-tamunya menuduh bahwa seserahan yang dibawa itu isinya palsu. Bukan padi dan kedelai, melainkan dicampur dengan jerami dan kulit kedelai.

Mendengar itu, Ki Honggolono marah. Pecahlah perang antar-kedua tokoh sakti ini, yang juga diikuti murid-muridnya. Dalam situasi kacau itu, Joko Lancur dan Dewi Amirah kecewa berat, bahkan memutuskan bunuh diri. Ketika sedang perang pun, tiba-tiba air bendungan meluap, terjadi banjir dan menghanyutkan Ki Ageng Mirah beserta banyak warganya.

Menemui anaknya sudah meninggal, Ki Honggolono sangat kecewa. Selesai memakamkan anaknya, ia mengumpulkan warga kedua desa yang masih tersisa. Pada saat inilah Ki Honggolono menyampaikan sabda-sabdanya.

Pertama,Wong-wong Golan lan wong Mirah turun-tumurun ora oleh ngenekake mantu”. (Orang-orang Golan dan Mirah beserta keturunannya tidak boleh mengadakan perjodohan). Kedua,Barang utowo isen-isene ndonyo saka Desa Golan kang awujud kayu, watu, banyu lan sapanunggalane, ora bisa digawa menyang Desa Mirah” (Segala sesuatu/barang dari Desa Golan tidak bisa dibawa ke Desa Mirah).

Ketiga,Barang-barange wong Golan lan desa Mirah ora bisa diwor dadi siji”. (Barang-barangnya orang Golan dan Mirah tidak bisa disatukan). Keempat,Wong Golan ora oleh gawe iyup-iyup soko kawul” (Orang Golan tidak boleh membuat atap dari jerami yang sudah kering). Sabda kelima, ”Wong Mirah ora oleh nandur, nyimpen, lan gawe panganan saka dele” (Orang Mirah dilarang menanam, menyimpan, dan membuat makanan dari kedelai).

Ki Ageng Honggolono juga menambahkan sabdanya: ”Sing sapa wonge nglanggar aturan iki bakal ciloko” (siapa pun orangnya yang melanggar aturan ini akan celaka). Selesai bersabda itu, ia pulang ke Desa Golan dengan perasaan kesal dan penyesalan.

”Sabda-sabda tersebut sampai saat ini benar-benar dijaga oleh masyarakat di dua desa tersebut,” kata Moh Afif, ketua PKM-PSH ini.

Dan menurut analisis timnya, unsur komitmen dari sikap Ki Honggolono itu ketika mau melamarkan Dewi Amirah untuk anaknya, Joko Lancur. Padahal persyaratan sulit dan pada awalnya ia juga tidak setuju rencana perjodohan itu. Sedang unsur kontrol diri, Ki Honggolono adalah panutan murid-muridnya dan kepala desa yang disegani rakyatnya. Juga ketika pasca pertikaian ia bersabda kepada warga dua desa yang masih tersisa.

Sedangkan unsur tantangan dapat dilihat dari hal yang melatarbelakangi perseteruan dua desa ini, yaitu keinginan Joko Lancur untuk menikahi Dewi Amirah, si anak Ki Ageng Mirah. Padahal untuk mengabulkan itu syarat yang diminta Ki Ageng Mirah sangat berat. Namun semua itu dipenuhi oleh Ki Honggolono sebagai pengorbanan seorang ayah untuk membahagiakan anaknya. (*)

Editor : Bambang Bes