Jadi Jurnalis? Tak cukup mahir nulis, Perlu Bahasa Inggris

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
MAKSUM Drs., M.Si., saat memberikan informasi seputar pengalaman di Career Talk, Pusat Pembinaan Karir dan kewirausahaan (PPKK), UNAIR. (Foto: Istimewa)
MAKSUM Drs., M.Si., saat memberikan informasi seputar pengalaman di Career Talk, Pusat Pembinaan Karir dan kewirausahaan (PPKK), UNAIR. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Pusat Pembinaan Karir dan kewirausahaan (PPKK) Universitas Airlangga menyelenggarakan ‘Journalistic Career Program’ sebagai pengenalan dunia jurnalistik kepada mahasiswa yang berminat berkarir di bidang tersebut. Itu merupakan serangkaian acara Carreer Talk sebagai upaya pengenalan dunia pasca kampus untuk mahasiswa UNAIR.

Pada Kamis (24/5), bertempat di Gedung PPKK, acara tersebut diisi Maksum, Drs., M.Si, alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR. Pengalaman yang telah didapatnya di bidang jurnalistik sampai saat ini adalah menjadi ketua Dewan Direktur Jawa Pos Institute of Prootonomi (JPIP). Dia menjelaskan hal soal perekrutan di media cetak, khususnya Jawa Pos, dan gambaran bagaimana aktivitas yang dilalui oleh seorang jurnalis.

Sebelum diterima, tentu ada proses seleksinya. Kalau di Jawa Pos, biasanya ketika open recruitment yang daftar mencapai 200 orang. Tes pertama biasanya mudah dilalui dan yang lolos hampir semuanya.

“Tes pertama ini tes tulis, kebanyakan pelamar sudah pintar-pintar. Tidak ada yang tidak pintar. Jadi, gampang untuk lewat tes ini,” ungkapnya.

Tapi, ketika disaring pada tes yang kedua, dengan bahasa asing, banyak yang gagal. Di antara 200 orang awal, yang tersisa bisa tinggal 50 orang saja. Hal itu disebabkan keperluan wartawan, khususnya di Jawa Pos yang berkenaan dengan paspor juga.

Siapapun yang diterima di Jawa Pos, pada hari pertama masuk, dia mesti sudah punya paspor. Sebab, penugasan ke luar negeri tidak pernah berjanji. Bisa saja tiba-tiba ada perundingan penting Korea Utara dan Korea Selatan ketika sudah diterima.

“Setelah diterima, sebelumnya wartawan baru akan magang dulu selama tiga bulan. Mereka akan tandem dengan wartawan senior. Mereka meliput kejadian yang sama, tapi tulisan tidak boleh sama dengan tandem. Nulisnya terserah apa saja,” ungkapnya.

Magang tersebut tidak akan diterima semua. Sebab, selama satu tahun ada empat kali rekrutmen. Setiap angkatan tidak lebih dari lima orang yang lolos. Hal tersebut terjadi karena banyak yang tidak tahan kerja. Ada yang pintar atau apa, tapi ketika kerja tidak mau disuruh atau tidak mau bekerja.

Maksum menjelaskan, berkarir di jurnalistik ini tidak bisa diceramahkan, tapi ditularkan. Jika berminat, Anda harus memupuk skill menulis sejak awal. Kalau ada kesempatan di lembaga pers mahasiswa (LPM) dan UNAIRNEWS manfaatkan dengan baik. Sebab, tidak ada prioritas dari jurusan manapun yang diterima.

“Siapa yang bisa menulis dengan baik yang diterima. Karena itu harus total. Jangan, misalnya saya hanya ingin berlatih, masuk atau tidak masuk ya gak papa. Jangan!, ini serius,” tutur Maksum. (*)

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Feri Fenoria Rifai

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu