REKTOR Universitas Airlangga Prof. Dr. Moh Nasih, S.E., MT., Ak., dalam jumpa pers di Lantai 4, gedung Rektorat UNAIR pada Senin (28/5). (Foto: Binti Q. Masruroh)
REKTOR Universitas Airlangga Prof. Dr. Moh Nasih, S.E., MT., Ak., dalam jumpa pers di Lantai 4, gedung Rektorat UNAIR pada Senin (28/5). (Foto: Binti Q. Masruroh)
ShareShare on Facebook32Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Ir Hamli menyatakan hampir semua perguruan tinggi negeri (PTN) sudah terpapar paham radikal. Salah satu yang diduga masuk daftar adalah Universitas Airlangga (UNAIR).

Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Moh Nasih, S.E., MT., Ak., CMA., memberikan tanggapan atas hal itu, pihaknya mengakui bahwa data lengkap atas warning tersebut sangat dibutuhkan, terutama terkait dengan upaya tindakan kampus selanjutnya. Pernyataan itu disampaikan Prof. Nasih di ruang rektor, Kampus C UNAIR, pada Senin (28/5).

Menanggapi ramainya pembicaraan soal paham radikal yang berujung pada terorisme, rektor sangat tegas mengungkapkan bahwa kampus mengutuk keras paham tersebut. Termasuk melawan dan mencegah terjadinya aksi semacam itu.

“Sikap kita jelas. Tidak hanya mengutuk keras, kita melawan dan menghentikan berbagai macam aksi terorisme,” ungkap Prof. Nasih.

Pihaknya mengakui, kampus sudah menyusun kegiatan sedemikian rupa, baik akademik yang berupa perkuliahan maupun non-akademik yang berwujud ekstrakurikuler. Jika di antara kegiatan itu masih ada mahasiswa yang mengikuti gerakan berpaham radikal, dia menolak bila hal tersebut dikaitkan dengan kampus sebagai institusi pendidikan.

“Setahu kami, kami sudah merancang kegiatan mahasiswa, kurikulum, dll sesuai dengan misi kami. Semua kegiatan mahasiswa, baik kurikulum maupun ekstra, sudah kami rancang untuk menambah kemampuan softskill. Dalam semua kurikulum itu, tidak ada kaitannya sama radikalisme atau yang mengarah pada terorisme dan radikal,” jelas rektor.

Prof. Nasih menambahkan, jika ada mahasiswa maupun dosen terpapar radikalisme, sebaiknya hal itu tidak dikaitkan dengan perguruan tinggi. Sebab, waktu yang mereka gunakan di kampus sangat terbatas. Pun, kampus tidak mengawasi setiap kegiatan yang diikuti mahasiswanya.

“Kami agak kurang sreg kalau ada pengaitan antara tindakan radikal dengan perguruan tinggi. Sebab, sistem perguruan tinggi sangat terbuka,” terang Nasih.

“Dengan 18 SKS satu semester, hanya tiga jam mahasiswa berada di kelas. Jadi, kalau ada mereka yang radikal, dikaitkan dengan perguruan tinggi, itu terlalu berlebihan. Bagus. Bikin kita instropeksi. Tapi, tidak lantas mengeneralisasi,” imbuhnya.

Selain UNAIR, perguruan tinggi lain yang dimaksud BNPT, antara lain, Universitas Indonesia (UI); Institut Teknologi Bandung (ITB); Institut Pertanian Bogor (IPB); Universitas Diponegoro (Undip); Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS); dan Universitas Brawijaya (UB). (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Feri Fenoria Rifai

ShareShare on Facebook32Tweet about this on Twitter0Email this to someone