LKB3M
Perwakilan peserta LKB3M dari berbagai mahasiswa di Jember dan Banyuwangi usai acara. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook12Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Organisasi Bidikmisi Universitas Airlangga (AUBMO) PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi kembali menyelenggarakan acara buka bersama. Namun, pada acara buka bersama kali ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya, tim AUBMO PSDKU berinovasi dengan menyelipkan materi pelatihan kepemimpinan di dalamnya.

Acara yang bertajuk Latihan Kepemimpinan dan Buka Bersama Bidik Misi (LKB3M) itu mengusung tema “Prepare Yourself with Leadership to your Bright Future”. Dilaksanakan pada Sabtu (19/5), AUBMO PSDKU mengundang  Nuri Hermawan, S.Hum., selaku alumni bidikmisi yang saat ini berprofesi sebagai staf di PIH UNAIR.

Pada kesempatan itu, alumnus Sastra Indonesia UNAIR itu menuturkan, perjuangan mahasiswa bidikmisi tidak cukup hanya dengan kemampuan akademik saja, tetapi harus diimbangi dengan kemampuan soft skill melalui kegiatan keorganisasian, kepanitiaan, pengabdian untuk mengasah kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

“Meskipun mengikuti kegiatan keorganisasian, jangan sampai mahasiswa bidikmisi lulusnya telat. Zaman saya dulu, lebih dari setengah mahasiswa penerima bantuan bidimisi tidak lulus tepat waktu. Jangan sampai ini terjadi pada kalian,” ujar pria kelahiran Blitar itu.

Tidak hanya itu, selama acara berlangsung, imbuhnya, mahasiswa penerima bantuan dana pendidikan bidikmisi di PSDKU diajak untuk mengingat kembali  sejarah pencanangan bantuan dana pendidikan bidikmisi di Indonesia.

“Karena dengan memahami sejarah, kita tidak akan salah dalam menentukan arah dan langkah,” tuturnya.

Acara LKB3M dilaksanakan di Ruang B201 Kampus Giri PSDKU UNAIR di Banyuwangi. Selain latihan kepemimpinan dan buka bersama acara juga dilanjutkan dengan salat tarawih berjamaah. Menurut Ulviana Dewi Kumalasari salah satu peserta kegiatan mengungkapkan, melalui kegiatan LKB3M ia lebih mengenal sejarah perjuangan menteri pendidikan mengusulkan pengadaan bantuan bidikmisi.

“Dan hal ini bisa kami rasakan sekarang, bagi mahasiswa yang kurang mampu pun bisa menempuh pendidikan tinggi di Indonesia,” jelasnya.

Usai memberikan materi, ada sesi simulasi. Dalam sesi ini peserta dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 6-7 orang. Simulasi terdiri dari dua bagian, yaitu permainan angka dan susun rangka. Pada permainan susun angka, peserta diajak untuk menyusun angka dari nominal 0-9 dan operasi hitung untuk menghasilkan kemungkinan angka terbesar dan angka terkecil.

“Tujuan permaian pertama ini untuk melatih peserta menyusun strategi dalam mencapai target maksimal bersama kelompok,” jelas mahasiswa yang akrab disapa Ulvi.

 

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria R

ShareShare on Facebook12Tweet about this on Twitter0Email this to someone