Belajar berwirausaha. (Foto: Siti Nur Umami)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Nabi Muhammad SAW ialah seorang pedagang. Ketika berusia 25 tahun, beliau pergi berdagang ke negri Syam. Karena itu, Islam mengajarkan umatnya untuk mandiri, yakni dengan berwirausaha.

Dalam upaya mendorong Iklim kewirausahaan dan melatih mahasiswa untuk menjadi wirausaha, Departemen Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga menghelat Islamic Economics Startup Acceleration Night. Malam penghargaan yang berlangsung Senin (14/05) di Aula Fajar Notonegoro ini mejadi puncak dari mata kuliah kewirausahaan.

Kegiatan tersebut meliputi tiga bagian. Pertama showcase alley (pameran produk), kedua startup-investor matchmaking (mempertemukan calon investor/shohibul maal dengan pelaku startup untuk memperoleh investasi), ketiga arena pitch battle (tiga tahap startup yang telah terkurasi di kompetisikan di hadapan panelis).

Dalam mata kuliah ini, mahasiswa harus membuat bisnis dan menjalankannya hingga mencapai target omzet. Hal ini dirasa menantang, sebab, sebagian dari mereka belum mengenal dunia kewirausahaan. Beberapa bahkan harus berusaha keras memperoleh ide bisnis.

Perjuangan ini dirasakan oleh tim Barana yang beranggotakan Fathin Su’aidi, Fanda, Elok, Atha, dan Fatimah. Sebelum memulai bisnis, tim Barana harus bolak-balik ke Lumajang untuk melakukan penjajakan kerjasama dengan mitra.

Tim Barana memilih bidang citypreneur sebagai ide bisnis mereka. Mereka mengangkat produk unggulan Lumajang yaitu pisang. Lumajang terkenal sebagai daerah produsen pisang terbesar. Namun belum dimanfaatkan menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi. Tim Barana membawa konsep baru memasarkan produk sari pisang dalam produk minuman.

Sekali produksi Barana memproduksi 20 liter untuk 70 botol. Proses produksi dilakukan dalam dua minggu sekali di Lumajang. Setelahnya, produk dikirim ke Surabaya.

“Pengajuan ide kami lakukan 5 hingga 6 kali ke dosen pembimbing untuk merintis bisnis yang layak,” tutur Fathin, CEO Barana.

Terlepas dari kendala dan berbagai tantangan, Fatin menuturkan, adanya matakuliah kewirausahaan ini dapat menambah pengalaman dalam mengorganisasi bisnis. Hal terpenting adalah berhadapan dengan mitra kerja eksternal.

Selain bidang citypreneur, tim lain yaitu Traject Trip Adventure memilih bidang edutrip untuk menyediakan jasa travel perjalanan wisata dengan paket lengkap. Berbagai fasilitas mulai akomodasi, transportasi, fotografi, hingga catering, dengan tujuan perjalanan ke Bali, Yogyakarta, Bromo, hingga Gili Ketapang. Selama bisnis berjalan, tim Traject Trip Adventure mampu meraup omzet sebesar 26 juta. Pangsa pasar mereka terdiri dari kalangan siswa sekolah menengah atas (SMA) hingga mahasiswa.

“Bisnis ini adalah travel low budget yang menyediakan paket lengkap. Sehingga pelanggan tinggal duduk manis dan menikmati perjalanan,” tutur Muhammad Alwy, salah satu anggota tim. (*)

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone