Fakultas Perikanan dan Kelautan menjadi suporter terbanyak aksi solidaritas anti teror. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Warga Surabaya sedang berduka. Aksi bom bunuh diri yang diduga dilakukan kelompok Jamaah Ansharut Daulah dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAD-JAT) -pendukung kuat ISIS- mengejutkan seluruh masyarakat Indonesia. Pengeboman  dilakukan di 3 gereja, yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela di Ngagel, GKI di Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat di Arjuna, Minggu pagi (13/5).

Disusul ledakan di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, pada hari yang sama, dan Polrestabes Surabaya keesokan hari.

Atas tragedi itu, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Airlangga melakukan diskusi tertutup untuk menggalang solidaritas. Kemudian, digalanglah aksi solidaritas dan doa bersama yang berlangsung di halaman depan Kantor Manajemen, Kampus C UNAIR, Selasa (15/5).

Dalam aksi itu, seluruh peserta yang terdiri dari mahasiswa UNAIR membawa lilin dan memakai pakaian dominan putih. Lebih dari 200 mahasiswa itu tidak diperkenankan memakai tas ransel untuk menghindari kecurigaan.

‘’Karena esensi dari teror adalah penyebaran ketakutan. Sehingga kita harus menguatkan diri untuk tetap produktif dan beraktivitas dengan normal serta membangun keberanian menumpas anarkisme,” terang Galuh Teja Sakti, Ketua BEM UNAIR.

Rangkaian acara diawali dengan mimbar bebas. Pengisi acara dibebaskan siapapun untuk tampil bersuara. Kemudian, dilanjut dengan pembacaan puisi yang dibacakan ketua BEM UNAIR dengan puisi berjudul “Jerit Surabaya” karya Bobby Tanaya. Berikut kutipan puisi yang dibacakan dalam aksi itu.

 

Rupanya, rupanya

Tak kusangka, tak pernah kusangka

Darah ada di mana- mana! Aku meronta! Ini ulah siapa! Mengapa semuanya diam!

Dentuman mesin berdesing

Menghantam, menerjang, menghancurkan

Gelegar bom telah terjadi di tengah kota

Derita terpancar terhampar

 

Usai pembacaan puisi, dilanjut dengan mengheningkan cipta. Sebagai penutup, lalu dilakukan doa bersama.

“Kami sebagai mahasiswa UNAIR yang solid akan berada di garda depan melawan aksi terorisme dan radikalisme,” tandas Bagas Purwa, Menko Pergerakan BEM UNAIR.

Sementara itu, usai tragedi pengeboman, pengawalan di kampus UNAIR ditingkatkan oleh rektorat. Hal ini demi terjaminnya keamanan dan kenyamanan di lingkungan kampus. Dibuktikan, setiap masuk rektorat dan gerbang UNAIR diadakan pemeriksaan metal detector. (*)

Penulis: Tunjung Senja WIduri

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone