Foto bersama peserta pelatihan kader di Banda Aceh, Sabtu (12/5). (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook4Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Program Studi Kesehatan Masyarakat PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi bekerjasama dengan Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syah Kuala melaksanakan pelatihan untuk membangun kapasitas bidan dan kader kesehatan. Tujuan pelatihan ini adalah skrining ibu hamil dan menyusui dengan masalah depresi kardiomiopati peripartum dan memberi mereka dukungan yang diperlukan. Pelatihan berlangsung Sabtu, (12/5).

“Pelatihan imi merupakan adobsi dari pelatihan sebelumnya yang berhasil dilakukan di Banyuwangi selama empat hari,” tutur Desak Made Sintha salah satu dosen peneliti dari Program Studi (Prodi) Kesehatan Masyarakat (Kesmas)PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi.

Pelatihan yang berlangsung sebelumnya yakni terhitung sejak tanggal 9-12 April bertempat di Ruang Minak Jinggo, Kantor Pemda Kabupaten Banyuwangi, dan Ruang Pertemuan, Puskesmas Licin, Banyuwangi.

Perawatan antenatal dan setelahpersalinan di Indonesia selama ini hanya dalam bentuk perawatan fisik dan tidak termasuk perawatan kesehatan mental yang sebenarnya sangat dibutuhkan.

“Dalam pelatihan itu dikembangkan modul pelatihan KENAL IBU, akronim dari Kesehatan Mental Ibu Hamil dan Menyusui. Isinya disesuaikan dengan bahasa yang berbeda di Banda Aceh dan Banyuwangi. Sehingga terdapat alat ukur dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Madura, Osing, dan Aceh,” ujar Sintha.

Pelatihan bidan dan kader kesehatan di Banda Aceh itu dilaksanakan selama empat hari, yaitu Rabu (9/5) sampai dengan Sabtu (12/5), bertempat di Gedung CMHS Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Pelatihan KENAL IBU tahap pertama ditujukan untuk para kader kesehatan, dilanjutkan dengan tahap kedua kepada para bidan di Banda Aceh. Sebanyak  7 bidan dan 38 kader di Banda Aceh berpartisipasi dalam pelatihan ini.

Selain kegiatan interaktif dengan mengikuti buku panduan KENAL IBU, materi pelatihan difasilitasi oleh beberapa ahli, yaitu psikolog Dr. Marty Mawarpury dan Maya Khairani, M.Psi dari Prodi Psikologi Universitas Syah Kuala serta dua fasilitator dari PSDKU UNAIR Banyuwangi.

Hampir semua peserta pelatihan menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan.Hasil dari evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa peserta pelatihan merasakan manfaat besar dari pelatihan ini, khususnya karena sebagian besar dari mereka belum terlalu paham tentang kesehatan mental ibu hamil dan menyusui. Informasi lengkap baru mereka dapatkan melalui pelatihan ini.

Harapan dari para bidan dan kader kesehatan peserta pelatihan adalah agar pelatihan seperti ini dapat terus diberikan bukan hanya sekali. Selain itu, mereka juga berharap agar ke depan, materi pelatihan juga bisa melibatkan para suami atau anggota keluarga lainnya agar dapat berpartisipasi membantu mereka dalam menghadapi depresi peripartum pada ibu hamil dan menyusui.

“Kami berencana mensosialisasikan hasil pelatihan ini kepada semua pegawai puskesmas. Termasuk berbagi ilmu yang didapatkan selama pelatihan dengan perawat jiwa di puskesmas. Selain itu, kami akan menerapkan skrining yang telah kami pelajari di pelatihan ini pada ibu hamil dan menyusui di wilayah kerja kami,” ujar bidan Hera dan Eva yang mewakili para bidan dari Puskesma Kopelma Darussalam Banda Aceh.

Peserta pelatihan juga berharap suatu saat mereka mendapatkan kesempatan melakukan studi banding ke berbagai puskesmas di Banyuwangi yang telah lebih dulu menerapkan kegiatan skrining atau deteksi KENAL IBU.

Ketua tim projek pelatihan Susy K Sebayang, Ph.D menyampaikan harapannya atas terselenggaranya pelatihan.

“Besar harapan kami agar metode deteksi dan sistem rujukan yang diberikan saat pelatihan ini dapat diadopsi oleh pemerintah daerah secara berkelanjutan,” terang Susy.

Susy menambahkan bahwa kegiatan ini adalah pertama di Indonesia yang menunjukkan bahwa perawatan rutin sebelum dan sesudah melahirkan dapat memberikan dukungan untuk ibu hamil dan menyusui, tidak hanya untuk kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental.

Setelah pelatihan deteksi KENAL IBU di Banda Aceh untuk bidan dan kader di Banda Aceh, keseluruhan pelatihan yang telah dilaksanakan di dua kota ini, Banyuwangi dan Banda Aceh, nantinya akan ada  evaluasi. Tujuannya, untuk menilai seberapa baik bidan dan kader kesehatan menyerap pengetahuan baru ini dan menerapkannya dalam layanan perawatan rutin antenatal dan postnatal. (*)

Penulis : Siti Mufaidah

Editor : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook4Tweet about this on Twitter0Email this to someone