Prof., Dr. Mieke Sylvia Margaretha Amiatun Ruth, drg., MS., Sp.Ort(K), guru besar Odontologi Forensik (Forensic Dentistry) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Dokter gigi seringkali diidentikkan dengan stereotip profesi medik yang “bermain” di wilayah clean, rapih, tertata, sophisticated, dan terkesan mahal. Di samping itu, hingga saat tulisan ini dibuat, dari sejumlah fakultas dan program studi kedokteran gigi yang tersebar di seluruh Indonesia, proporsi antara dokter gigi lulusan antara pria dan wanita masih didominasi oleh dokter gigi wanita. Sehingga pada literasi awam, seringkali muncul paradigma salah yang diungkapkan secara tidak langsung, stereotip tersebut dilekatkan kepada para dokter gigi wanita.

Prof., Dr. Mieke Sylvia Margaretha Amiatun Ruth, drg., MS., Sp.Ort(K), sang guru besar Odontologi Forensik (Forensic Dentistry) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga secara membanggakan membuktikan bahwa dokter gigi wanita Indonesia tidak seperti itu.

Prof. Mieke, panggilan akrabnya, adalah salah satu narasumber dan expert bidang forensik yang sudah banyak berkecimpung di bidang identifikasi jenazah korban bencana atau kasus kriminalitas bertahun-tahun lamanya.

Berkat kepiawaian, komitmen, dan rasa kemanusiaan tinggi yang ia miliki, banyak kasus dengan korban banyak yang membutuhkan analisis identifikasi forensik mendalam. Seperti kasus penerbangan jatuh, bencana alam, hingga kriminalitas teror seperti yang baru-baru ini melanda Kota Surabaya berhasil ia tangani dengan baik. Bahkan, lebih cepat dari yang sedianya diperkirakan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) gabungan.

Ditemui di sela-sela tugasnya dalam identifikasi korban dan pelaku bom gereja Kota Surabaya, Senin (14/5), Prof. Mieke menuturkan keprihatinannya sebagai warga Kota Surabaya.

“Saya pribadi merasa terkejut dan kecewa sebagai warga Surabaya saat mendengar ada peristiwa ini. Saya sudah sampai berpikir, ini pasti banyak korban tidak berdosa yang terkena imbas,” tuturnya dengan raut wajah sedih.

Profesor kedokteran gigi forensik  yang turut tercatat sebagai salah satu identifikator pada proses identifikasi jenasah korban Air Asia Q Z8501 Air Asia tahun 2015 lalu ini secara tegas menyampaikan, perasaan subjektif seorang manusia -khususnya dokter- tidak boleh sampai mengalahkan rasa kemanusiaan yang muncul saat ada bencana luar biasa. Sepertihalnya kasus bom di Kota Surabaya ini.

“Terus terang pada saat saya dengar ada korban berjatuhan, saya langsung mengkondisikan perasaan bahwa saya harus bantu negara dan para keluarga yang menunggu dengan cemas. Apakah ada anggota keluarga atau warga yang menjadi korban? Itu yang menguatkan saya,” papar Prof. Mieke.

Prof. Mieke yang tercatat sebagai salah satu anggota International Organization for Forensic Odonto-Stomatology (IOFOS) ini memiliki riwayat panjang dalam upayanya memasyarakatkan peranan pencatatan data ante-mortem (sebelum meninggal, Red). Upaya ini sebagai langkah partisipatif dan komitmennya membantu masyarakat.

Beberapa yang terkini seperti penyelenggaraan program pengabdian masyarakat di Kabupaten Probolinggo (2014) dan Kabupaten Pasuruan (2015) lalu dengan tema “Pelatihan Pengisian Personal Medical Record sebagai Upaya Pengumpulan Data Antemortem pada Aparat Desa dan Kader Kesehatan.

“Bayangkan jika semua warga memiliki catatan terkait kondisi gigi dan morfologi wajah dari keluarganya secara mandiri sejak dini, dituntun dan dipandu oleh dokter gigi setempat, maka bilamana kelak terjadi bencana yang tentunya tidak kita inginkan bersama, proses identifikasi keluarga akan lebih cepat dan mudah. Bukan karena tim DVI-nya saja, tapi partisipasi keluarga juga berperan,” ungkap Prof. Mieke.

Peristiwa bom di Kota Surabaya lalu menyisakan pesan kuat dari Prof. Mieke kepada para generasi muda dokter gigi di seluruh Indonesia.

“Peran dokter gigi itu luas. Salah satunya dalam membantu negara dan masyarakat di situasi yang tidak nyaman bagi semua orang, seperti tragedi ini (teror bom di Surabaya, Red). Entah yang kita identifikasi ini pelaku korban, rasakan di hati bahwa pada saat mereka masih hidup, pasti juga memiliki konflik batinnya masing-masing. Jangan bedakan antara korban atau pelaku pada saat kita bertugas,” pungkasnya. (*)

Penulis: Gilang Rasuna

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone