-
TIGA mahasiswa dan dua dosen mewakili PSDKU (Program Studi Di Luar Kampus Utama) UNAIR di Banyuwangi dalam konferensi nasional tembakau 2018 bertajuk The 5th ICTOH 2018. (Foto: Rahmasuciani Putri)
ShareShare on Facebook25Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa dan dua dosen mewakili PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi dalam The 5th Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) 2018, Senin (7/5). Mereka berhasil lolos sebagai oral presentator untuk memublikasikan hasil risetnya.

The 5th ICTOH 2018 telah menghadirkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, baik mahasiswa maupun masyarakat umum. Sebelumnya, para peserta itu mengikuti seleksi dengan mengirimkan abstrak berupa riset ilmiah atau contoh keberhasilan pengendalian tembakau.

Sub-tema dalam seleksi abstak tersebut, antara lain, Rokok sebagai Penghambat Pencapaian Window Opportunity Bonus Demografi; Pajak dan Cukai Rokok untuk Mengurangi Prevalensi Merokok; Rokok sebagai Pintu Masuk Narkoba; Peringatan Kesehatan Bergambar; Pelarangan Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok; dan Ancaman Perkembangan Variasi Produk Tembakau dan Rokok Elektrik.

Juga, Rokok sebagai Ancaman Kesehatan Ibu dan Anak; Peranan Profesi Kesehatan dalam Pengendalian Tembakau; Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Mencegah Perilaku Merokok; serta Alih Tanam Tembakau Menuju Kedaulatan Pangan. Termasuk Dukungan Upaya Berhenti Merokok; Ancaman Mekanisasi Industri Rokok; Kawasan Tanpa Rokok; Intervensi Industri Rokok; serta Rokok dan Kemiskinan.

Sementara itu, tiga mahasiswa PSDKU UNAIR Banyuwangi tersebut adalah Gayatri Ayodya, Siti Mufaidah, dan Rahmasuciani Putri. Ketiganya lolos seleksi abstrak di bidang riset ilmiah. Gayatri Ayodya mengusung judul riset “Opini masyarakat, pemilik warung dan penjaga warung terhadap peringatan kesehatan bergambar (Graphic Health Warning) di wilayah Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi tahun 2017”.

Gayatri mengungkapkan bahwa yang digunakan dalam penelitiannya adalah data sekunder. Yakni, yang berasal dari hasil survei evaluasi kebijakan larangan iklan luar ruang di Banyuwangi. Dalam riset itu, Gayatri ingin mengungkapkan bahwa tidak banyak perokok yang berpikir mau untuk berhenti dengan peringatan bergambar.

Kebanyakan di antara mereka tetap merokok. Namun, perokok tersebut lebih memilih rokok dengan gambar yang bukan penyakit.

”Sebenarnya mereka tau bahaya rokok dan takut melihat gambar penyakitnya, tapi belum menggerakkan mereka untuk berhenti merokok. Karena itu, masih diperlukan intervensi lanjutan agar mereka dapat benar-benar berhenti,” ujarnya.

Di sisi lain, Rahmasuciani dan Siti masing-masing mengusung judul “Perilaku Merokok pada Pasien Tuberkulosis di Tiga Puskesmas Kabupaten Banyuwangi” dan “Perbandingan Status Sosial Ekonomi Pemilik Warung dan Penjaga Warung Penjual Rokok Dan Masyarakat Umum”. Saat ditemui tim UNAIR NEWS, Putri mengakui bahwa tujuan awal keikutan itu adalah mencari pengalaman.

Mengingat, kegiatan tersebut merupakan yang kali pertama mereka diikuti. Khususnya menjadi presentator dalam ICTOH 2018.

”Lebih dari itu, kami bisa berkesempatan menambah relasi dengan bertemu para tokoh yang hadir,” katanya.

“Simposium itu juga merupakan kesempatan emas kami untuk memublikasikan riset ilmiah kepada khalayak umum. Jadi, penelitian kami bisa mendapatkan masukan untuk analisis riset kami,” imbuh mahasiswa semester IV tersebut.

Dua dosen yang turut lolos adalah Susy Katikana Sebayang dan Desak Made Sintha. Mereka juga berasal dari Program Studi Kesehatan Masyarakat PSDKU UNAIR di Banyuwangi. Keduanya masing-masing mengusung riset berjudul  “Kepadatan Penjual Rokok Dekat Kawasan Pendidikan dan Penolakan Pedagang untuk Menjual Rokok pada Pelajar di Banyuwangi, Jawa Timur” dan “Karakteristik Mahasiswa Universitas Airlangga di Banyuwangi yang Pernah Menggunakan Rokok Elektrik”. (*)

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifai

ShareShare on Facebook25Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).