Volunteer GELIAT Ke-4 UNAIR Siap Mengabdi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dekan FKM Prof. Dr. Tri Martiana dr., MS., sesaat setelah menyematkan tanda volunteer sebelum mereka diterjunkan di lokasi pengabdian masyarakat masing-masing. (Foto: Feri Fenoria Rifai)

HUNAIR NEWS – Volunteer Gerakan Peduli Ibu dan Anak Sehat Universitas Airlangga (GELIAT) Ke-4 resmi dilepas untuk mengabdi kepada masyarakat pada Sabtu siang (5/5). Bertempat di Aula Sumarto, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Universitas Airlangga (UNAIR), pelepasan tersebut ditandai dengan pengalungan tanda volunteer oleh Dekan FKM Prof. Dr. Tri Martiana dr., MS.

Turut mendampingi prosesi tersebut, antara lain, penanggung jawab Dr. Nyoman Anita Damayanti, dr., Ms.; Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) UNAIR Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com.; dan perwakilan dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Selain itu, pelepasan tersebut ditandai dengan penyerahan daftar volunteer GELIAT kepada Dinas Kesehatan Kota Surabaya.

Dalam sambutannya, Dr. Nyoman menyampaikan bahwa kegiatan GELIAT dimulai pada 2015. Pada 2018, kegiatan tersebut memasuki tahun keempat. Awalnya, kegiatan itu dilatarbelakangi oleh fakta tingginya angka kematian bayi dan ibu hamil (bumil) di Surabaya. Bahkan menjadi angka tertinggi di Jawa Timur.

”Dulu (2015, Red) kami mengawalinya melalui kerja sama dengan UNICEF (Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa, Red),” ujarnya. ”Dan, setelahnya, melalui keaktifan dan antusias mahasiswa S1 dan S2 serta alumni, dampak positifnya cukup terasa. Yakni, terjadi penurunan angka kematian bayi meski sedikit. Karena itu, ini kami lanjutkan,” imbuhnya.

Dr. Nyoman menjelaskan, GELIAT merupakan kegiatan pengabdian masyarakat oleh mahasiswa S1, S2, dan alumni UNAIR untuk mengurangi dan mencegah terjadinya peningkatan angka kematian bayi dan bumil. Program tersebut berupa pendampingan kepada bumil hingga melahirkan. Bahkan, pendampingan tersebut dilanjutkan hingga pasca melahirkan. Termasuk menjadi mediator terhadap fasilitas kesehatan yang ada.

”Selain berdampak pada pengurangan angka itu, melalui GELIAT ini, juga tak sedikit yang menghasilkan bahan penelitian untuk skripsi, disertasi, dan thesis,” sebutnya. ”Selain itu, kita juga menghimpun data lapangan untuk kepentingan kebijakan terkait dengan isu kesehatan bayi dan bumil,” tambahnya.

Menurut Dr. Nyoman, GELIAT 2018 berfokus pada empat puskesmas di Surabaya. Yakni, Puskesmas Tenggilis, Medokan Ayu, Kali Rungkut, dan Gunung Anyar.

”Mereka (volunteer, Red) nanti grup. Jadi, terdiri atas beberapa bidang. Ada keperawatan dari kesmas, bahkan dari psikologi,” tuturnya.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com., mengungkapkan bahwa GELIAT termasuk pengabdian masyarakat yang menjanjikan. Artinya, dalam praktiknya, kegiatan tersebut memiliki indikator yang jelas.

”Pengabdian ini berangkat dari permasalahan. Lalu, terdapat tawaran solusi atas permasalahan tersebut. Dan, berpotensi menjadi program yang berkelanjutan,” ujarnya.

GELIAT, lanjut Prof. Jusuf, berkemungkinan dapat menggantikan program kegiatan KKN (kuliah kerja nyata) ke depan. Sebab, UNAIR mendorong adanya modifikasi pengabdian mayarakat yang lebih efisisen, efektif, serta memiliki dampak yang terasa.

Menanggapi GELIAT, Prof. Dr. Tri menyampaikan bahwa GELIAT sudah cukup terlihat hasilnya atau dampaknya. Saat ini, lanjut dia, terjadi perbedaan yang mencolok terkait dengan aktivitas bumil.

”Dulu, bumil begitu berhati-hati. Setiap nasihat dari orang tua pasti diikuti dan ditaati. Namun, kini bumil cenderung mengampangkan, bisa dianggap sedikit ceroboh. Kesembronoaannya cenderung tinggi. Karena itu, pendampingan itu sangat perlu. Termasuk perhatian terhadap aspek-aspek psikologis.

”Terima kasih kepada semuanya, volunteer. Dan semua yang terlibat dalam kegiatan ini,” imbuhnya. (*)

Penulis: Feri Fenoria Rifai

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu