Pemilu (Bagian II)

Aku tak puas. Pun begitu, awalan me- juga tidak menghasilkan kata untuk pilu. Memilu juga tak ada di kamus.

Atau mungkinkah, awalan pe- itu jika kutambahkan pilu akan menyebabkan konsonan ‘p’ akan luruh.

Bibirku lirih membunyikan kata, “tidak mungkin”. Namun otak jailku, dalam bahasa othak athik gathuk mengatakan yang sebaliknya.

Mungkinkah pepilu itu salah, dan pemilu itu adalah hasil peleburan awalan pe- dan kata pilu.

“Ah, mana mungkin pemilu punya akar kata yang bermakna kesedihan.”

Giliran hatiku bertaburkan tanya, senang-senang jail, tapi juga gelisah jika kata itu benar adanya.

Kemudian, kutelateni pencarian ini dengan membuka kamus lagi. Dan untunglah, KBBI tidak setuju. Prasangkaku mungkin melampaui batas. Ia sinis menuduh pada pendapatku tadi, karena nyatanya pemilu adalah singkatan dari pemilihan umum. Bukan seperti rangkaian yang kuduga.

Mana mungkin pemilihan umum itu sedih.

Pemilihan itu proses untuk mendapatkan sesuatu yang dikehendaki. Dan umum itu berarti banyak orang. Dan pemilihan umum adalah proses seleksi dimana banyak orang terlibat, berlangsung terbuka dari seluruh pihak dan untuk semua pihak pula yang tergabung di dalamnya.

Jadi asosiasi mengenai kesedihan tentang pemilu harus ditepis. Pemilu adalah pesta, festival, ajang yang tidak ada sedihnya sama sekali. Ini adalah ajang heroik, “sebuah adu kehebatan antar calon untuk membawa masa depan rakyat yang lebih adil dan sejahtera”, katanya di negeriku.

Tapi kata temanku suatu ketika.

“Suatu saat nanti, saat hati sepiku telah terisi. Saat itulah kita harus benar-benar merevisi cara kita memilih pemimpin dengan sakral dan khidmat.”

Mungkin, maksud temanku tadi, “kita tidak akan memakai sistem menyedihkan tentang pemilu, tapi menggunakan sistem dimana seorang pemimpin diangkat karena dia punya kualitas dari akar kepemimpinan dari bawah langsung”, bukan dengan baliho, iklantelevisi, dan polesan pencitraan yang mahal, bukan pula lewat sogokan yang haram, dan tidak juga lewat agen-agen yang berpotensi memakelari “harga mati” masa depan Indonesia dan manusia Indonesiamenjadi “harga nego”—dagang sapi. sekian.

(Oleh: Sukartono / Alumni UNAIR 2012)