Ilustrasi
Ilustrasi oleh merdeka.com
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

Tanpa sengaja di puncak rasa bosan karena sepi. Kuraih sebuah buku di rak perpustakaan kampusku. Tanpa punya maksud apa-apa. Aku dibimbing untuk sekadar membuka halaman demi halaman.

Lantas, tiba-tiba saja di bercak noda coklat yang membekas pada halaman itu, aku menemukan sebuah kata yang tak kurang sedih, sebagaimana yang kesepian pasti juga dalam kesedihan.

Kalau kata yang kutemukan ini sudah bermakna sedih, maka kata ini pasti juga terasing karena terlalu lama orang bersenandung atas bunyinya, tetapi hanya dalam omong kosong—tanpa pemaknaan, tanpa penghayatan.

Kata dalam buku itu ialah “pilu”, rasa hati yang bagaikan diiris oleh sembilu—irisanbuluh yang tajam melebihi belati.

Kalau bagimu kata itu belum terasa sedih, bersedihlah tapi bukan untuk sedih itu sendiri. Tapi, bersedihlah untuk merenungkan sampai hari ini, apakah sudah pantas kita tidak merasa sedih tentang diri kita sendiri ?

Tentang satu kata itu (pilu), akal budi ini terasa ingin mengejarnya. Walau ia akan lari karena kudekatinya tanpa ilmunya. Sebagaimana orang-orang yang terus merasa sepi, mereka tidak akan pernah tahu tentang keramaian yang sesungguhnya. Karena keengganan untuk mendekatkan diri dalam kerumunan hidup yang meskipun fana, tapi adalah bagian dari kebahagiaan yang tetap harus diselami selagi engkau ada di dunia ini.

Dan pendeknya untuk pertama-tama kupakai caraku untuk memahami kata ‘pilu’ itu, dengan kusorongkan sebuah awalan padanya. Namun, jika benar pilu senada dengan sedih, maka kutambahkanpula pe- di awal kata sedih.

Awalan pe- untuk sedih, menjadi penyedih, yang artinya seseorang yang larut dalam kesedihan tak bertepi.

Awalan me- untuk sepi, menjadi menyepi, yang artinya mengasingkan diri menuju sepi.

Lantas kata kamus, tak ada kata yang bisa dibentuk ketika awalan pe- kutambahkan untuk pilu. KBBI daring maupun buku, tak mengenal kosa kata pepilu. Pepilu tak ada. Dan tak berarti, hanya saja kalau kuucapkan dia adalah bunyi, suara, pelafalan dari bibir yang penasaran pada makna kata yang diembannya. bersambung…

(Oleh: Sukartono / Alumni UNAIR 2012)

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone