inspirasi data
Ilustrasi inspirasi data
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

Apakah Pertiwi tidak tahu apa hasil diagnosa dokter beberapa hari yang lalu ? Ternyata tidak. Setelah melihat gelagat suaminya yang berubah. Yang sangat tepat waktu saat pulang kerja, dan dengan kehadiran Ibu mertuanya di rumah. Ia makin merasa curiga. Hingga, di suatu pagi, ia yang hanya ditemani Ibunya, pura-pura kalau obatnya sudah habis dan ingin menebus obat lagi ke dokter yang sama. Di saat itulah, Pertiwi dan Ibu mertuanya, mendapat penjelasan gamblang tentang diagnosa dokter atas penyakitnya, sekaligus kemungkinan kalau kelahiran bayinya itu akan merenggut Ibunya sendiri.

Pertiwi amat tabah mendengar penjelasan itu. Tapi sang ibu mertua merasa sangat tidak menyangka, kalau anaknya itu sedang berada di ujung bahaya.

“Apa yang salah dari perjodohan kedua anakku ini. Kenapa sampai ada omongan seperti ini dari dokter,” ujar si ibu mertua dalam pikirnya.

Dulu, eyang mereka memprediksi tepat kalau mereka akan punya anak di 2030. Ramalan eyang mereka itu nampaknya akan tepat. Tapi kenapa penuh resiko. Kenapa Pertiwi tidak punya kepastian akan masa depannya. Bukankah kalau si bayinya lahir tepat pada waktunya, Januari 2030. Itu pertanda kebahagiaan bagi keluarga besar Nusatara, yang dikaruniai cucu laki-laki pertamanya. Apakah tangis cucuku itu menandai kesedihannya ? Ataukah justru sebaliknya. Aku ingin cucuku dan Ibu Pertiwi tetap hidup. Tak boleh ada anak yang lahir sebagai petaka bagi Ibunya.

Jauh dalam kandungan Ibunya. Si bayi itu ingin menjawab keresahan neneknya.

“Nenek, kata dokter bukanlah kepastian kehendak Tuhan. Aku akan lahir tepat pada waktunya. Yakni di tahun 2030sebagaimana ramalan eyang buyut. Dan Ibu masih akan terus mendampingiku hingga pada tahun 2045 nanti, ketika aku akan menjadi remaja kuat dan cerdas. Di tahun itulah, titik balik dimana keluarga kita akan mengalami fase baru yang akan lebih membahagiakan. Yakni, aku yakin sebelum tahun itu. Ibu akan dinyatakan sembuh total oleh Dokter. Dan ayah akan menjadi laki-laki yang paling bahagia di dunia.”

***

Selesai

Penulis: Sukartono (Alumni FST UNAIR 2012)

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone