Simpan ‘Benih’ dengan Teknik Sperm Freezing

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ahli andrologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) dr. Aucky Hinting, Ph.D, Sp.And. (Foto: Bambang BES)

UNAIR NEWSTahun 2015 lalu, seorang bayi laki-laki bernama Xavier Powell terlahir dari pasutri asal Australia melalui proses bayi tabung. Yang menarik, sperma yang digunakan adalah milik ayah Xavier sendiri yang telah dibekukan selama 23 tahun .

Seperti dilansir www.health.detik.com, ayah kandung Xavier bernama Alex telah lama menyimpan sampel spermanya menggunakan metode sperm freezing di sebuah bank sperma. Ini disebabkan karena sejak berusia 15 tahun, Alex didiagnosis menderita limfoma hodgkin, kanker yang menyerang sistem limpanya.

Karena khawatir proses kemoterapi akan merusak sel-sel sperma dan membuatnya mandul, maka atas permintaan sang ibu, Alex ‘menyelamatkan’ benih spermanya menggunakan metode sperm freezing. Metode ini mampu menjaga kualitas sperma bahkan hingga puluhan tahun. Alhasil,  dari pernikahan Alex bersama istrinya, lahirlah Xavier yang kemudian dinobatkan sebagai bayi yang lahir dari sperma tertua di dunia.

Kisah Alex bisa jadi mewakili keberhasilan penyimpanan sperma menggunakan teknik sperm freezing yang diterima sebagai sebuah metode untuk membantu orang yang mendambakan keturunan namun terhalang oleh kondisi medis. Bagaimana dengan di Indonesia? Menurut ahli andrologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) dr. Aucky Hinting, Ph.D, Sp.And teknik sperm freezing belum sepenuhnya tersosialisasi secara luas ke masyarakat.

Seperti diketahui, sperm freezing telah lama dikenal sebagai teknik penyimpanan sel sperma ke dalam nitrogen cair kemudian dibekukan pada suhu minus 196 derajat Celcius.

Proses pembekuan ini menghentikan seluruh reaksi kimia di dalam cairan sperma. Sehingga sel sperma dapat bertahan lama. Dengan teknik ini, maka sampel sperma dapat disimpan selama puluhan tahun tanpa batasan waktu penyimpanan. Pada saat diperlukan, sampal sperma dapat ‘dicairkan’ kembali dan siap digunakan dalam prosedur bayi tabung.

Karakteristik cairan sperma memiliki sitoplasma yang sedikit sehingga relatif mudah dibekukan dan sedikit membentuk kristal. Karena itu, meskipun dibekukan selama bertahun-tahun, selnya akan tetap hidup dan tidak rusak.

Sebagai seorang ahli androlog, Aucky merasa teknik ini memudahkan seseorang dalam menjaga fertilitasnya.Terlebih bagi yang terkendala kondisi medis, seperti yang dialami Alex. Atau dalam kasus lain, membantu pasien kanker atau tumor testis yang harus menjalani kemoterapi bahkan operasi pengangkatan tumor. Teknik ini juga bisa ‘menyelamatkan’ fertilitas pria yang masih lajang namun harus menjalani kemoterapi.

“Ketika kesuburan seseorang menurun akibat proses kemoterapi atau pengobatan jangka panjang, maka dengan menyimpan benih sejak awal, setidaknya dia masih punya cadangan sperma yang dapat dimanfaatkan kembali, meskipun kenyataannya kualitas sperma di dalam tubuhnya sudah menurun,” ungkapnya.

Menurut Aucky, sebelum pasien menjalani operasi, ada baiknya seorang dokter menawarkan solusi penyimpanan sampal sperma kepada pasien. Sayangnya, hal tersebut masih terkendala beberapa faktor.

“Ada beberapa rumah sakit yang belum menetapkan prosedur sperm freezing ini kepada pasien kemoterapi. Teknik ini juga belum dipahami secara luas oleh tenaga medis, karena kurangnya sosialisasi di kalangan dokter maupun masyarakat,” ungkapnya.

Selain itu, biaya penitipan sperma ini juga relatif mahal. Untuk harga awal penitipan selama satu tahun pertama, user dikenai biaya titip sekitar Rp 2,5 juta. Di tahun berikutnya, dikenai biaya perawatan sebesar Rp 1 juta setiap tahun.

Faktor psikologis pasien juga sangat berperan. Mayoritas penderita kanker atau sakit lainnya lebih fokus mengupayakan kesembuhan dirinya, dan mengabaikan kepentingan yang lain.

“Pasien kalau uda mau kemoterapi kan biasanya udah nggak mikir mau punya anak, mereka lebih fokus untuk pengobatan dirinya sendiri. Dan ketika sudah sembuh, baru kepikiran kepingin punya anak, sementara kesuburannya sudah menurun,” ungkapnya.

Teknik sperm freezing juga dapat membantu seseorang yang mengalami buntu pada saluran spermanya. Atau dengan istilah lain, seseorang dengan sperma ‘nol’. Dalam kondisi tersebut, jumlah sperma yang dihasilkan hanya sedikit sehingga pada akhirnya sulit membuahi sel telur.

Dengan menggunakan teknik sperm freezing, maka akan dilakukan biopsi testis, diagnosis, pemeriksaan, pengambilan sperma, kemudian dibekukan. Jika sewaktu-waktu diperlukan, maka sampel sperma ini akan dicairkan dan disuntikkan ke sel telur sebagaimana proses bayi tabung.

“Kalau dulu orang yang spermanya ‘nol’ dikira mandul, nggak bisa punya anak. Namun sekarang dengan bantuan teknologi bisa diupayakan melalui bayi tabung,” ungkapnya.

Di luar negeri, penyimpanan sperma ditempatkan pada sebuah bank sperma. Namun, seiring berjalannya waktu, pencari donor sperma melalui bank sperma perlahan menurun. Hanya beberapa negara yang masih mengizinkan adanya praktek donor sperma.

Saat ini, mayoritas pasangan yang menginginkan momongan cenderung beralih pada teknik sperm freezing sebelum memulai sebuah prosedur bayi tabung. Sehingga benih yang ditanam dalam rahim bukan lagi dari benih pendonor sperma milik orang lain, melainkan dari pasangannya sendiri.

Di Indonesia, bank sperma jelas tidak diperbolehkan. Namun Prof Aucky menekankan pemanfaatan teknik sperm freezing ini lebih diarahkan untuk menyelamatkan fertilitas seseorang agar tetap memiliki keturunan sekalipun terkendala kondisi medis.

“Saya berharap, teknik ini dapat tersosialisasi lebih luas lagi. Sehingga terbuka wawasan dan harapan bagi siapapun yang ingin memiliki keturunan, sekalipun kesuburannya terancam akibat kemoterapi dan pengobatan jangka panjang yang dijalaniya,” tuturnya. (*)

Naskah : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu