Budaya Ilmiah di Keluarga Kekaisaran Jepang

SAYA terkejut ketika beberapa waktu lalu membaca banyak hal terkait dengan kebiasaan yang dilakukan pada keluarga kekaisaran Jepang. Satu hal yang saya garisbawahi itu adalah publikasi tulisan-tulisan mereka pada jurnal ilmiah internasional yang bereputasi. Ini pantas untuk kita teladani.

Sebelumnya, penulis pernah berkunjung ke Jepang karena berhasil mendapatkan grant untuk research internship program, di The International Research Center for Medical Sciences, Kumamoto University. Ketika itu saya masih menjalani studi di Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga. Dari program itulah saya benar-benar tahu dan kagum bagaimana etos kerja dan kedisiplinan orang Jepang terhadap sebuah pekerjaan, dalam hal ini penelitian.

Mungkin pembaca juga sama terkejutnya dengana saya, karena Kaisar Hirohito, Kaisar Akihito (Kaisar Jepang saat ini), Pangeran Hitachi (adik Kaisar Akihito), Pangeran Akishino (anak Kaisar Akihito), dan Putri Nori (anak Kaisar Akihito) merupakan seorang peneliti. Mereka fokus pada bidang riset masing-masing, mulai dari biologi kelautan, ornitologi, hingga riset terkait masalah kanker.

Kaisar Akihito meneruskan jejak dari sang ayah, Kaisar Hirohito, untuk mendalami ilmu biologi kelautan atau marine biology. Setelah menelusuri lebih jauh di jagad internet, menemukan lagi berbagai tulisan ilmiah yang ditulis dalam  Bahasa Jepang oleh Kaisar Hirohito.

Sedangkan publikasi ilmiah terbaru dari Kaisar Akihito muncul di jurnal internasional bereputasi tinggi pada tahun 2016 (sebagai first author), Gene (terbitan dari Elsevier, publisher terbesar untuk jurnal ilmiah internasional bereputasi). Tulisan tersebut membahas terkait spesiasi dari dua spesies gobioid, Pterogobius elapoides dan Pterogobius zonoleucus yang berbasis biologi molekuler. Pada jurnal tersebut, sang anak, Pangeran Akishino turut serta sebagai second author.

Penulis mencoba menelusuri publikasi karya Kaisar Akihito di Scopus. Kemudian menemukan h-indeks Scopus berjumlah 3 dan 7 publikasi ilmiah terindeks. Skor ini sudah cukup tinggi, bahkan dibandingkan dengan dosen-dosen pada banyak perguruan tinggi ternama di Indonesia saja, yang mungkin belum memiliki h-indeks Scopus, atau bahkan publikasi ilmiah terindeks Scopus.

Menariknya, Pangeran Akishino jauh lebih produktif dibanding sang ayah. Tulisan terakhirnya terbit pada tahun 2017 terkait penelitian anatomi pada unggas. Sekitar tahun 1990-an, Pangeran Akishino pernah melakukan riset di Indonesia terkait filogenetik berbasis biologi molekuler pada spesies Gallus gallus.

Pangeran Akishino merupakan ornithologist, lulus program doktor di bidang Ornithology dari The Graduate University for Advanced Studies atau Sokendai – Jepang. Selain itu, Pangeran Akishino juga pernah menjadi President dari Yamashina Institute for Ornithology.

Setelah menelusuri Scopus, ternyata Pangeran Akishino juga memiki skor h-indeks Scopus 3 dan 17 dokumen terindeks. Saat ini, afiliasinya pada University of Tokyo, Japan. Tujuh belas dokumen terindeks di Scopus adalah jumlah yang besar jika dibandingkan dengan peneliti atau akademisi di Indonesia.

Berikutnya adalah Pangeran Hitachi, adik dari Kaisar Akihito. Pangeran Hitachi banyak bergerak pada riset terkait kanker. Ia pernah menjadi research associate pada The Japanese Foundation for Cancer Research, serta Honorary President pada instansi yang sama. Pangeran Hitachi mendapatkan Honorary Doctorate dari George Washington University, US dan penghargaan yang sama dari The University of Minnesota, US.

Pangeran Hitachi juga pernah menjadi honorary member dari The German Association for Cancer Research, karena kontribusi signifikannya pada bidang penelitian kanker. Setelah kami telusuri di Scopus, Pangeran Hitachi memiliki skor h-indeks Scopus 2 dan dua dokumen terindeks Scopus.

Kemudian Putri Nori merupakan keluarga kekaisaran Jepang yang terakhir untuk ulasan kali ini. Putri Nori adalah anak Kaisar Akihito, atau saudara perempuan Pangeran Akishino. Putri Nori pernah tercatat sebagai research associate dan appointed researcher di Yamashina Institute for Ornithology, dan spesialisasi risetnya adalah terkait burung raja udang atau kingfishers. Afiliasinya saat ini adalah Tamagawa University, sebagai seorang peneliti. Merujuk pada data di Scopus, Putri Nori memiliki satu dokumen terindeks Scopus yang terbit pada tahun 2016, terkait pada riset filogeni burung.

Teladan Mengejar Ketertinggalan

Setelah mengetahui kebiasaan ilmiah seperti itu, sekarang kita paham bahwa Jepang saat ini sangat leading di bidang sains dan teknologi. Bayangkan, keluarga kekaisaran saja sangat produktif dalam menulis artikel ilmiah di jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus.

Jadi, Jepang merupakan negara yang seharusnya kita contoh dalam hal memajukan peradaban bangsa. Setidaknya, hal ini juga bisa menjadi contoh untuk bagaimana kita semakin menggenjot semangat dalam memajukan Universitas Airlangga.

Merujuk pada data yang dirilis oleh scimagojr.com, Indonesia menduduki peringkat ke-55 di dunia. Bahkan kita tertinggal jauh dari negara tetangga, seperti Singapura (peringkat 32), Malaysia (peringkat 34), dan Thailand (peringkat 43).

Sedangkan Jepang sendiri kokoh di peringkat 5 (lima) dengan 2.367.977 dokumen terindeks Scopus. Namun, kita tidak boleh menyerah karena ketertinggalan ini. Masih ada asa bahwa suatu saat Indonesia akan leading pada pengembangan bidang sains dan teknologi.

Fakta-fakta diatas sudah cukup untuk memotivasi kita. Dibalik kemewahan hidup sebagai anggota keluarga dari kekaisaran yang tertua di dunia, mereka tetap produktif mencurahkan tenaga untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Sebenarnya tidak hanya nama-nama yang sudah tersebut diatas dari keluarga kekaisaran Jepang yang memiliki sepak-terjang di bidang ilmu pengetahuan, masih banyak pula yang lainnya di bidang social sciences. Akan tetapi sengaja tidak kami sertakan, karena suatu pilihan saja, bahwa kami memilih anggota keluarga kekaisaran Jepang yang bergerak pada bidang life sciences sebagai teladan.

Indonesia memiliki banyak perguruan tinggi. Baik itu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) hingga Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Berdasarkan data dari Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Ristekdikti) tahun 2017, total di Indonesia terdapat sekitar 4.500 perguruan tinggi. Namun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk Ristekdikti masih sangat minim, terlebih lagi dana APBN yang dialokasikan untuk penelitian masih sangat rendah, hanya sekitar 0,1% dari produk domestik bruto (PDB).

Ganjalan-ganjalan semacam ini seharusnya tidak boleh terjadi lagi. Pemerintah Indonesia harus fokus berbenah secara serius pada sektor pendidikan tinggi dan tidak hanya mengandalkan dana dari APBN. Solusi nyata yang mungkin bisa digerakkan adalah memperkuat kolaborasi-kolaborasi penelitian bertaraf internasional dengan negara-negara maju serta kerjasama dengan sektor swasta.

Saat ini, penguasaan terhadap sains dan teknologi menjadi kiblat untuk mencetak sumber daya manusia yang kompeten serta memacu sebuah bangsa menjadi maju dan disegani oleh bangsa lain. Jika Pemerintah Indonesia tidak segera berbenah, kita bisa menjadi bangsa yang tertinggal. Setidaknya saat ini saja kita sudah tertinggal di sektor penelitian oleh negara-negara tetangga. Semoga catatan ini menjadi cambuk bagi kita untuk mengejar ketertinggalan dan menjadi lebih maju. (*)

Editor : Bambang ES