andreas gunawan
ALUMNI pertama FE UNAIR tahun 1962, Drs. Andreas Gunawan (berdiri no-5 dari kiri) yang bermukim di AS, sambang kampoeng ke Surabaya disambut sahabat-sahabat lamanya, Sabtu (21/4). Termasuk diantaranya Dekan FE Prof. Dian Agustia. (Foto: Bambang Bes)
ShareShare on Facebook23Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Reuni kecil-kecilan, dihadiri 14 alumni sepuh Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, berlangsung di sebuah Resto di Surabaya, Sabtu (21/4). Lebih tepatnya, kumpul-kumpul itu menyambut Drs. Andreas Gunawan (82) atau Liem Tiauw Gwan yang lagi ”sambang kampoeng”. Ia adalah mahasiswa angkatan pertama Perguruan Tinggi Ekonomi Surabaya (PTES), cikal bakal FE UNAIR, dan alumni pertama FE UNAIR tahun 1962. Kini Andreas bermukim di USA.

Pertemuan gayeng itu juga dihadiri Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR Prof. Dr. Dian Agustia, SE., M.Si., Ak. Tokoh alumni FE yang hadir antara lain Prof. Arsono Laksmana, Drs. Ec. Sugiat, Drs. Ec. Mashariono, MBA., H.M. Djoewaeni (Lawang), Koentjoro Koesnoeljakin (Jakarta), Jan J. Legawa, Budi Setiorahardjo, Eddy Purnomo, M. Pribadi Arqam, Sri Subekti dan Fransisca (Hwa Tje).

Bertemu dengan kawan-kawan lama, mereka saling mengungkapkan kenangan masa lalu saat mereka aktif sebagai mahasiswa dan aktivis kampus. Mereka saling aktif bicara masa lalunya, ada yang menelepon kawan yang tidak bisa datang, dsb., yang dilaksanakan sambil makan siang bersama.

Mengutip buku “Melangkah Di Tahun Emas, 50 Tahun Universitas Airlangga” (2004), PTES adalah cikal-bakal FE UNAIR (kini FEB). Yayasan PTES (YPTES) sebagai pendirinya, dibentuk pada 1 Januari 1954. Setelah berproses, akhirnya PTES diresmikan 15 September 1954. Lalu pada 17 November 1957 dijalin kerjasama antara PTES dengan FE Universitas Indonesia.

Pada saat YPTES diresmikan itu, sebenarnya pengurus sudah mengajukan permohonan kepada Presiden agar PTES digabungkan ke dalam Universitas Airlangga (dijadikan negeri). Akan tetapi terkendala beberapa faktor, diantaranya saat itu belum ada Undang-Undang Perguruan Tinggi.

Dalam perjuangan selanjutnya, cita-cita PTES akhirnya terwujud bersama keluarnya SK Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Nomor 31/1961 tanggal 8 Agustus 1961 yang menetapkan sejak 1 September 1961 PTES resmi berubah menjadi Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga.

andreas gunawan
ANDREAS Gunawan, duduk nomor tiga dari kiri, dan sahabat-sahabatnya di FE UNAIR, di sebuah resto di kawasan Manyar Surabaya, Sabtu (21/4). (Foto: Bambang Bes)

”Saya masuk kuliah itu masih di PTES tahun 1954. Tetapi ketika lulus tahun 1962, PTES sudah berubah menjadi FE UNAIR. Jadi tidak salah kalau menyebut angkatan saya itu alumni pertama FE UNAIR,” kata Andreas Gunawan kepada news.unair.

Setelah lulus tahun 1962, karena saat itu ketersediaan dosen masih terbatas, Andreas langsung diberi surat tugas untuk mengajar di FE. Ia mengajar Cost Accounting. Namun sambil mengajar itu ia juga diangkat sebagai koordinator fakultas. Tetapi ketika terjadi “rame-rame” (istilah Andreas untuk kasus politik tahun 1964-1965), ia tidak serujuk dengan dosen “drop-dropan” dari luar yang berhaluan kiri. Andreas yang pro-mahasiswa banyak “mengganggu” kelompok yang kekiri-kirian itu.

”Saya dan mahasiswa tidak rela ada komunis di Indonesia, jadi kami bekerjasama dengan mahasiswa dan melawan,” kata Andreas, arek Suroboyo dengan semangatnya yang masih tampak. Padahal disatu sisi pemerintah tak ingin kelangsungan pendidikan itu terganggu. Kementerian Perguruan Tinggi pun tak berani mengeluarkan Andreas, takut kalau mahasiswa bergolak. Akhirnya memilih “memisahkan” Andreas dengan disekolahkan ke Amerika Serikat.

Ketika sudah kuliah pada prodi marketing jenjang Master, Yale University, hati Andreas tetap tidak bisa tenang karena gejolak “rame-rame” di Surabaya itu. Tanpa seijin pemerintah, akhirnya Andreas pulang ke Surabaya untuk membantu pergerakan, walau diakui saat itu ia salah tafsir.

”Kalau hanya di AS kan saya tidak terlibat, padahal saya ingin terlibat. Jadi ya pulang. Tapi lama-lama kementerian juga tahu dan saya diminta kembali lagi ke AS,” kisahnya.

Di AS Andreas kuliah beneran. Memang sempat pindah dari Yale University ke Ohio University. Gara-garanya, dosen terbaik marketing di Yale itu pindah ke Ohio, jadi Andrean mengikutinya. Kendati demikian, karena di Surabaya “rame-rame” tidak juga reda, akhirnya Andreas pulang ke Indonesia, tidak menyelesaikan Program Masternya.

Di Surabaya Andreas kembali mengajar. Dalam suatu hari ia sempat “diculik” oleh sahabatnya, Djoewaeni, aktivis HMI, agar tidak membuka fakultas, karena Andreas yang membawa kunci gedung, sehingga kegiatan dosen “kekiri-kirian” itu gagal.

Dalam perjalanan waktu, setelah gejolak reda, tahun 1965-1967 Andreas atau Drs. Liem Tiauw Gwan diangkat jadi Asisten Dekan Bidang Akademik. Saat itu Dekan FE UNAIR dijabat Prof. Drs. Ec. Miendrowo Prawirodjoemeno. Setelah 1967 ia kembali jadi dosen biasa. Tetapi karena penghasilan saat itu tidak cukup, ia mula-mula nyambi bekerja mengurus perusahaan milik orang.

Setelah berpengalaman, sambil terus mengajar di FE, ia berhasil mendirikan perusahaan sendiri. Kiprah yang lain, Andreas membantu pembukaan FE Universitas Widya Mandala dan FE Universitas Wijaya Kusuma (UWK). Bahkan juga diangkat sebagai dekan yang pertama, baik di WM dan UWK.

Memutuskan untuk bermukin di AS, ia akui terhitung belum lama, baru sejak 1998. Sebenarnya ia enggan pindah ke AS, tetapi karena tiga anaknya sekolah disana dan Andreas pernah sakit kanker parah, sehingga anaknya kerepotan dalam merawat, akhirnya Andreas menyerah untuk diboyong ke Negeri Paman Sam itu, sampai saat ini. Tetapi setiap dua tahun ia selalu poelang kampoeng.

”Di AS saya nggak ada aktivitas kerja. Ya semata senang-senang, jalan-jalan olahraga, neruskan hoby fotografi, bikin mebel tetapi tidak untuk usaha. Santai saja dengan anak-anak,” katanya.

Ditanya kiat kebugarannya dimana Andreas masih tampak enerjik? Ia mengaku hanya olahraga rutin berjalan setiap hari. ”Saya tidak diet. Juga tidak minum obat, minum vitamin pun tidak. Pantangan makan tidak ada. Rahasianya hanyalah pikiran tenang. Itu saja,” tambahnya.

Dimintai masukan dan harapannya? Andreas berharap UNAIR semakin maju dan mengedepankan teknologi baru, serta bisa memenuhi harapan masuk 500 dunia. Walau, sejatinya ia bukan orang yang terlalu mementingkan peringkat, karena Indonesia ini masih butuh tenaga yang berkualitas dan siap bekerja. Jika itu bisa disuplay UNAIR sudah sangat bagus, katanya. (*)

Penulis : Bambang Bes

ShareShare on Facebook23Tweet about this on Twitter0Email this to someone