HRLS
Dr. Herlambang saat memandu diskusi HRLS FH UNAIR. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Aboeprijadi Santoso atau akrab disapa Bung Tossi, seorang jurnalis senior penuh dedikasi tinggi dengan menyuarakan prsoalan hak-hak asasi manusia dalam kerja-kerja jurnalistiknya. Ia pula penulis buku “Jejak jejak Darah: Tragedi dan Pengkhianatan di Timor Timur” sebagai ikhtiar keberpihakannya pada Hak Asasi Manusia.

Kali ini, Bang Tossi hadir dan menjadi narasumber dalam diskusi yang digagas Human Right Law Studies (HRLS), Fakultas Hukum, Universitas Airlangga dan AJI Surabaya dengan tajuk Jurnalisme dan Pembelaan. Diskusi itu bertujuan untuk memahami dan belajar mengenai jurnalisme advokasi dan relevansinya dalam konteks Indonesia hari ini . Bahkan diharapkan diskusi tersebut mampu menjawab pertanyaan terkait “masih adakah masa depan Jurnalisme Advokasi di Indonesia?”.

Hadir pula pembahas diskusi, Moch Syahri, mahasiswa Doktoral Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNAIR dan Bung Miftah Faridl, Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Surabaya. Diskusi yang dipimpin oleh Dr. Herlambang Pertana Wiratraman  itu dihadiri oleh 15 orang dari kalangan  mahasiswa dan umum pada (16/4).

Dalam pemaparannya, Faridl mengatakan bahwa jurnalis adalah manunisa yang otonom dan HAM adalah sesuatu yang bebas nilai. Jika disandingkan, keduanya tentu sangat relevan. Sebagaimana sejarah, pers identic dengan advokasi lantaran pers lahir dari suatu pembelaan. Di era seperti saat ini, jurnalis memiliki ruang lingkup yang lebih luas, pasalnya kemajuan teknologi mendorong seseorang dapat membuat berita atau yang biasa disebut citizen journalism. Selain itu, tambahnya, prespektif jurnalis bukan mengenai normatif.

“Perlu adanya kolaborasi, saat ini satu media beranak pinak. Mereka biasanya memiliki cetak, internet, dan televisi. Politik polarisasi, media yang begitu cepat masuk di politik pilarisasi. Dalam hal ini HAM menjadi tidak bebas nilai,” ujar Faridl.

Saat ini, untuk menjawab apakah dalam konteks sekarang pers dapat melakukan pembelaan. Ia mengatakan bahwa sangat berat ketika hal itu dihadapkan pada konteks media atau industri pers saat ini.

“Tetapi kita harus tetap harus optimis. Jurnalis harus bisa kembali menemukan marwahnya,” pungkasnya.

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone