-
PELATIHAN Asesor Kompetensi Perawat Klinik di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) selama lima hari (mulai 11 hingga 15 April). (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS Himpunan Perawat Manajer Indonesia (HPMI) menggelar ”Pelatihan Asesor Kompetensi Perawat Klinik” di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) selama lima hari (mulai 11 hingga 15 April). Pelatihan rutin setahun dua kali itu dibuka Dr. Prayetno S.Kep., M.Kep.

Fokus pelatihan tersebut adalah pengetahuan para asesor dalam metodologi bagaimana mereka me-recognize perawat yang sudah bekerja di rumah sakit. Dalam kesempatan itu pula, Eka Widiati, S.Kep, M.Kep., selaku fasilitator dari HPMI menjelaskan bahwa pelatihan tersebut bertujuan melindungi masyarakat sebagai pasien di rumah sakit ketika dilayani.

“Rumah sakit sudah seharusnya mempunyai sistem bahwa yang merawat pasien adalah perawat yang berkompeten. Tujuannya, masyarakat sebagai pasien bisa terlindungi,” ungkapnya.

Dalam keperawatan, menurut Eka, seorang perawat harus memiliki tiga hal. Yakni, pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Perawat bisa dikatakan bekerja dengan baik dan berkompeten jika mempunyai ketiga hal.

”Kalau dia pintar, tapi etikanya kurang, ya tidak bisa. Dia skill aja jago, tapi pengetahuannya kurang, juga belum dikatakan berkompeten. Kami mengatakan kompeten jika ketiganya dimiliki perawat,” jelasnya.

Selanjutnya, Eka memberikan gambaran bahwa sistem keperawatan belum tertata dengan baik. Sebab, perawat yang sudah di lapangan seharusnya pasti yang sudah berkompeten. Dan, untuk perawat yang belum berkompeten, semestinya ada treatment khusus dari rumah sakit.

“Misalnya, melakukan kesalahan, kita evaluasi perawat itu. Jika ternyata perawat tersebut belum bekompeten, rumah sakit harus bertanggung jawab. Tapi, jika sudah berkompeten, kita lihat gap kompetensi itu. Di mana untuk di-treatment dimaksudkan untuk menutupinya, bukan asesor mencari kesalahan,” jelasnya.

Eka menambahkan, dengan melihat gap tersebut, pelatihan dapat difokuskan. Dengan begitu, pelatihan bisa disesuaikan dengan gapnya sehigga tidak ada pelatihan yang tidak jelas tujuannya.

Kegiatan oleh HPMI tersebut, jelas Eka, tak berhenti pada pelatihan ini saja. Saat dan setelah pelatihan, Rencana Tindak Lanjut (RTL) di rumah sakit masing-masing mesti dibuat. Sertifikat juga tak akan dikeluarkan bila RTL belum diselesaikan.

Dengan adanya asesmen kompetensi itu, rumah sakit bisa memunculkan pelatih-pelatih untuk menutupi kompetensi yang belum dipunyai perawat. HPMI bakal menemani selama enam bulan ke depan. Sekaligus mengawal asesor yang ikut untuk memaksimalkan hasil pelatihan yang diikutinya. (*)

 

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone