Sebanyak 95 mahasiswa Ilmu Politik UNAIR melakukan kunjungan ke DPRD Kota Batu, Selasa (10/4). Kunjungan ini dalam rangka belajar terkait perumuskan kebijakan publik dan dinamikanya. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kuliah memang tak selalu berada di dalam kelas. Seorang pembelajar perlu melihat secara langsung objek kajiannya. Seperti yang dilakukan oleh rekan-rekan mahasiswa program studi (prodi) Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga ketika mengunjungi DPRD Kota Batu, Selasa (10/4).

Dengan tujuan memverifikasi teori yang diajarkan di dalam kelas, sebanyak 95 mahasiswa yang telah terbagi menjadi sepuluh kelompok mengajukan beberapa pertanyaan seputar kondisi empiris kebijakan publik yang dilaksanakan di DPRD Kota Batu.

“Melalui kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya sekadar belajar teori-teori kebijakan publik, namun juga tau sulitnya merumuskan kebijakan publik dan memahami dinamikanya,” ujar Erna Setijaningrum S.IP., M.Si. selaku dosen mata kuliah Administrasi yang juga ikut serta dalam kunjungan.

Kunjungan mahasiswa disambut baik oleh DPRD Kota Batu, Bappeda, dan Dinas Pariwisata Kota Batu. Acara ini dihadiri oleh perwakilan DPRD Didik Machmud (Ketua Komisi C), Sudiono (Ketua Komisi A), dan Asmadi (Ketua Komisi B). Beberapa perwakilan Bappeda yang turut hadir antara lain Wiwit, Rizky, Saryono, serta Chairil Fajar selaku perwakilan dari Dinas Pariwisata.

“Sebagai wakil rakyat, kami senang jika mahasiswa antusias mendalami kegiatan DPRD. Kami akan menjawab dengan maksimal setiap pertanyaan yang muncul dan mencoba untuk sama-sama belajar,” ujar Didik mengawali sambutan.

Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan dialog antar mahasiswa dengan anggota DPRD, Bappeda, dan Dinas Pariwisata Kota Batu. Dalam dialog itu, topik yang dibahas adalah kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Batu 2010-2030.

Secara bergantian, mahasiswa melontarkan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan perpesktif politik yang dianalisis. Harijanti Puspa perwakilan dari kelompok 2 bertanya, “Bagaimana dampak dari kebijakan RTRW terhadap pertumbuhan pariwisata Kota Batu?”

Menjawab pertanyaan itu, Wiwit mengatakan bahwa adanya kebijakan RTRW memunculkan daerah-daerah yang difokuskan untuk pariwisata dan non-pariwisata. Hal ini berdasarkan kondisi topografi yang ada.

“Siapa saja yang mempengaruhi perubahan kebijakan RTRW?,” tanya Adib salah satu anggota kelompok lain.

“Dalam proses pembuatan kebijakan, kami melibatkan stakeholder terkait dan masyarakat. Hal ini bertujuan untuk merumuskan kebijakan terbaik yang tepat sasaran,” jawab Saryono. “Pro-kontra antar kelompok kepentingan pasti ada di setiap peraturan daerah. Tetapi kami tetap mengupayakan solusi terbaik untuk mengatasi benturan kepentingan yang ada,” imbuhnya.

Melalui kunjungan ini, diharapkan mahasiswa mengetahui proses perumusan dan penerapan kebijakan publik secara empiris. Ini juga pembelajaran bagi para mahasiswa ilmu politik agar tetap objektif ketika menghadapi konflik kepentingan. (*)

Penulis: Aiman Bahalwan (Mahasiswa Ilmu Politik UNAIR)

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone