Ilustrasi
Ilustrasi oleh Feri Fenoria
ShareShare on Facebook111Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Mahal dan membutuhkan biaya yang sangat besar. Itulah pandangan sebagian besar masyarakat tentang kuliah di Fakultas Kedokteran. Namun, pandangan itu telah dibantahkan oleh mahasiswa-mahasiswa kedokteran penerima bantuan pendidikan bidikmisi.

Bagi mahasiswa kodektaran penerima bidikmisi, keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk mewujudkan mimpi menjadi seorang dokter. Bagi mereka, menempuh pendidikan dokter secara gratis dan mendapatkan biaya hidup setiap bulannya menjadi salah satu amanah besar untuk melakukan pengabdian kepada negara usai menyelesaikan kuliah di kedokteran.

Oleh karena itu, untuk mengetahui perjalanan panjang mahasiswa-mahasiswa penerima bidikmisi yang telah lulus dan menjadi dokter, UNAIR NEWS akan menyajikan deretan kisah dan pengabdian dokter-dokter yang selama kuliah di Pendidikan Dokter, Fakultas Kedoktaran (FK), Universitas Airlangga dengan bantuan pendidikan bidikmisi.

dr. Afan Abdul Jabbar menjadi dokter jebolan bidikmisi pertama yang akan UNAIR NEWS sajikan dalam liputan khusus “Dokter-dokter Penerima Bidikmisi”. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo Wlingi, Kabupaten Blitar, menjadi tempat pengabdian Dokter yang akrab disapa Afan itu. Ditemui UNAIR NEWS disela kesibukkannya pada beberapa pekan lalu, Afan mengaku sangat bangga bisa menjadi dokter jebolan bidikmisi.

“Satu hal yang membuat saya pribadi sangat bersyukur adalah pernah bergabung dan berjuang bersama teman-teman bidikmisi sewaktu menempuh kuliah di FK UNAIR,” ungkapnya.

Sebelum mengisahkan berbagai pengalaman selama pengabdian, kepada UNAIR NEWS Afan terlebih dahulu menceritakan bahwa sebelum mendaftar ke Pendidikan Dokter UNAIR, ia justru ingin daftar di jurusan farmasi. Namun, dengan berbagai pertimbangan dan masukan dari orang-orang terdekat, Afan pun memutuskan untuk memilih jurusan Pendidikan Dokter UNAIR.

“Awalnya  ingin kuliah di farmasi. Karena itu memang minat ilmu yang saya tekuni. Tapi setelah menerima banyak saran dan masukan, akhirnya saya memberanikan diri untuk daftar di Pendidikan Dokter dan alhamdulillah diterima,” kenangnya.

Meski sudah menjadi dokter, Afan tidak puas diri. Usai pengabdian, dokter asal Sidoarjo itu bertekad untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke negeri Sakura, Jepang. Hal itu berangkat dari tekadnya bahwa ke depan ia  ingin kembali ke almamater untuk menjadi tenaga pengajar.

“Bagi saya tidak cukup untuk menjadi dokter saja. Saya ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya karena keinginan dari awal ialah menjadi akademisi. Tapi juga tidak menutup kemungkinan sekaligus menjadi klinisi,” paparnya.

Selanjutnya, mengenai berbagai pengalaman yang didapat selama pengabdian, Afan mengaku bahwa realitas kehidupan yang terdapat pada daerah sangat berbeda jauh dengan di kota. Letak rumah sakit yang tidak berada di pusat kota menjadikan akses masyarakat untuk ke rumah sakit terbilang susah. Terlebih bagi masyarakat yang berada di daerah pegunungan, menurut Afan mereka yang dalam kondisi seperti itu terkadang kerap terlambat untuk sampai di rumah sakit.

“Kasus yang terjadi di sini, tidak jarang pasien yang tiba di rumah sakit sudah dalam keadaan yang sangat gawat dan mengkhawatirkan,” terangnya.

Pada akhir, sebelum memungkasi perbincangan, Afan berharap semoga UNAIR dapat terus mencetak mahasiswa dan lulusan yang berkualitas. Selain itu, kepada mahasiswa bidikmisi yang tengah kuliah di Fakultas Kedokteran UNAIR, Afan berpesan agar terus semangat dan pantang menyerah.

“Jangan minder saat melihat teman yang berpenampilan mewah. Karena orang sukses itu tidak dilihat latar belakang kita bagaimana,” pungkas anak kedua dari tiga bersaudara tersebut.

 

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook111Tweet about this on Twitter0Email this to someone