Ilustrasi
Ilustrasi oleh Feri Fenoria
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga, menjadi sosok yang akan UNAIR NEWS kupas pada Liputan khusus “Ketua BEM Kita” kali ini. Ialah Yunaz Karaman. Diwawancarai pada beberapa hari yang lalu, ketua BEM yang akrab disapa Yunaz itu menuturkan berbagai hal seputar visinya menjadi Ketua BEM FIB UNAIR tahun 2018.

“Awalnya, bukan dari keinginan saya, tetapi karena dorongan dan kepercayaan dari teman-teman. Dari situ, saya coba pikir lagi dan akhirnya memutuskan untuk mencalonkan diri. Di FIB kemarin, saya menjadi calon tunggal. Kenapa demikian, saya juga tidak begitu tahu apakah semua mendukung saya atau memang tidak ada lawan,” ungkap Yunaz.

Selain itu, Yunaz megakui bahwa keputusannya menjadi ketua BEM FIB juga timbul dari permasalahan yang ada di FIB. Permasalahan itu, menurutnya, adalah kurangnya kepercayaan organisasi mahasiswa di luar BEM yang terus terjadi dari tahun ke tahun.

“Maka dari itu saya ingin menjembatani antara BEM, teman-teman ormawa, dan mahasiswa lainnya untuk saling berkolaborasi dan dapat menjaga iklim organisasi yang baik kembali,” katanya.

Maka dari itu, lanjutnya, dibentuklah Kabinet Guyup Rukun. Dengan itu, Yunaz ingin mencapai visi-misi yang ditawarkannya, yaitu ingin mengembalikan lagi kepercayaan ormawa lainnya dan mahasiswa-mahasiswa terhadap BEM.

“Dari situlah lahir program-program, seperti hiring ormawa yang mana kita akan mendengarkan keluh-kesah atau saran ormawa yang mana kita akan menghadirkan dekanat dan kasubbag-kasubbag fakultas sehingga masalah-masalah yang ada bisa diselesaikan,” katanya.

 

Selama ini, BEM FIB juga berusaha hadir di setiap kegiatan ormawa atau BSO di FIB. Bagi Yunaz, hal itu menjadi satu kesempatan untuk membenahi solidaritas FIB agar bisa lebih guyub lagi.

“Tantangannya terkadang datang dari kebijakan dekanat yang tidak mengajak kami, sehingga kebijakannya tidak diketahui. Dari situ, terkadang merugikan mahasiswa. Solusinya, saya langsung mendatangi dekanat untuk berbicara empat mata dengan dekanat dan masalahnya bisa clear,” tuturnya.

Selain menyelesaikan berbagai masalah itu, Yunaz juga ingin BEM FIB bisa mandiri secara finansial melalui Kementerian Depot Budaya (Kewirausahaan, red). Melalui itu, BEM akan membuat sayembara desain untuk merchandise FIB. Dari situlah akan dihasilkan merchandise seperti notebook, jaket, dan semacamnya.

“Di Kementerian Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat, red) juga ada diskusi tematik. Misalnya isu-isu kebudayaan, nasional, dan semacamnya. Nantinya akan di-output-kan menjadi buku, kumpulan opini, puisi, cerpen, dan semacamnya,” tambah Yunaz.

Pada akhir, sebagai ketua BEM FIB, Yunaz berpesan bahwa yang terpenting adalah kehidupan rukun di kalangan mahasiswa dan hadirnya BEM untuk mahasiswa. Pasalnya, bagi Yunaz, BEM bukanlah sekumpulan orang yang sedang sibuk merumuskan eventevent dengan dana yang sangat fantastis, bingung mencari guest star, atau branding BEM saja.

BEM, lanjut Yunaz, adalah tangan yang selalu bergerak, mata yang selalu melihat, telinga yang selalu mendengar keluh, kesah, dan aspirasi semua karya mahasiswa. Sehingga, tambahnya, BEM harus menjadi jembatan organik yang bisa menghubungkan mahasiswa dengan dekanat, rektorat, dan dunia nyata.

“Sehingga adanya BEM ini bisa dinyatakan, dirasakan, dan dilihat kebermanfaatannya. Kita harus menelanjangi egoisitas dari setiap organisasi, serta bisa saling berkolaborasi dan bekerja sama,” pungkas Yunaz. (*)

Penulis: Moh. Alfarizqy

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone