Mungkin TBC, Jangan Remehkan Batuk Lebih 2 Minggu

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
RS UNAIR
SEMINAR dalam rangka peringatan Hari Tuberkulosis setiap tanggal 23 Maret di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR). (Foto: Binti Q. Masruroh)

UNAIR NEWS – Terhitung mulai Januari hingga Maret tahun 2018 ini, jumlah pasien penyakit Tuberkulosis (TBC) yang ditangani Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR) mencapai 92 pasien. Bukan jumlah yang sedikit.

Indonesia, tercatat sebagai negara kedua dengan jumlah terbanyak pasien TBC setelah India. Memperingati Hari Tuberkulosis yang berlangsung setiap 23 Maret, RS UNAIR memberikan seminar yang diselenggarakan di depan poli paru. Dalam seminar itu, selain disampaikan pengetahuan seputar penyakit TBC, diadakan bagi-bagi masker agar masyarakat sadar terhadap pentingnya kesehatan.

Dengan sangat informatif, dokter spesialis paru Dr. Prastuti Asta Wulaningrum Sp. P., memberikan pengetahuan seputar penyakit TBC. Dalam kesempatan tersebut pula, seluruh pengunjung bebas bertanya soal TBC.

Dokter Pras –sapaan karibnya– menyatakan, sebagian besar pasien yang didiagnosa TBC menyangkal dan tidak percaya bahwa dirinya menderita TBC. Sedikit yang tahu bahwa obat TBC yang banyak diderita masyarakat ekonomi ke bawah itu diberikan secara gratis. Dalam beberapa kasus, lanjut dokter Pras, orang mengeluhkan batuk berbulan-bulan, tapi tak kunjung melakukan pemeriksaan. Akibatnya, penyakit TBC baru diketahui ketika sudah parah.

“Beberapa yang patut diwaspadai dari munculnya penyakit TBC adalah batuk dan meriang yang tak kunjung sembuh selama lebih dari dua minggu,” ucapnya.

Selain itu, lanjut dia, berat badan yang turun drastis lebih dari 5 kg tanpa usaha diet atau mengurangi berat badan mesti diwaspadai. Itu adalah salah satu tanda munculnya TBC.

Penularan TBC

Kuman TBC bisa menular dengan banyak cara. TBC dapat menular melalui interaksi langsung (bicara), batuk, bersin, dan juga menyanyi. Karena itu, pasien TBC diwajibkan untuk memakai masker kapan dan di manapun ketika berada di lingkungan sosial.

Karena kumannya dapat menular dengan cara yang relatif mudah, ada etika batuk yang harus dipatuhi pasien TBC. Di antaranya, menutup mulut dengan tisu atau sapu tangan ketika batuk. Bisa pula menutup dengan lengan dalam. Juga tidak diperkenankan untuk berjabat tangan dengan orang lain.

Paparan sinar matahari secara langsung dapat membunuh kuman TBC. Karena itu, sirkulasi udara yang kurang dalam sebuah ruangan memudahkan kuman TBC untuk berkembang biak. Sebab, matahari tidak memiliki akses untuk masuk langsung. Orang yang terkena TBC juga tidak boleh meludah sembarangan.

”Dengan meludah sembarangan, tanah belum tentu kena sinar matahari langsung. Kuman belum tentu mati,” ujar dokter Pras.

Orang yang terserang HIV atau diabetes pun diimbau untuk paling tidak sekali dalam satu tahun untuk memeriksakan diri terkait keberadaan kuman TBC. Sebab, dua penyakit itu rentan mengakibatkan TBC.

Dokter Pras mengimbau masyarakat agar tidak segan-segan untuk memeriksakan diri ketika mendapati gejala-gejala mirip dengan TBC. Tujuannya, penyakit bisa segera diatasi dan tidak merambah kepada orang lain. Obat TBC diberikan secara gratis di rumah sakit atau layanan kesehatan yang bekerja sama dengan dinas kesehatan. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu