Pilkada
Dr. Suko Widodo saat memandu acara diskusi publik tentang pilkada. (Foto: Nuri Hermawan)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara serentak sudah semakin dekat. Pasangan calon yang bakal maju untuk memperebutkan kursi kepemimpinan pun mulai melakukan kampaye. Untuk itu, sebagai upaya membangun kesadaran warga agar turut serta aktif dalam memeriahkan perhelatan akbar lima tahunan tersebut, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Perlindungan Masyarakat (Bakesbangpol Linmas) Provinsi Jawa Timur menggandeng beberapa pakar Universitas Airlangga untuk memberikan paparan dalam Diskusi Publik tentang “Membangun Kesadaran Warga dalam Kelancaran Pelaksanaan Pilkada Serentak Jawa Timur 2018”.

Acara yang dilangsungkan di Aula Soetandyo Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR itu dilangsungkan pada Kamis (22/3).  Dimoderatori langsung oleh Dr. Suko Widodo, pakar Komunikasi Politik itu membuka diskusi dengan menekankan pentingnya keikutsertaan warga dalam pilkada guna membangun daerah secara bersama.

“Pilkada ini adalah sarana seluruh elemen warga untuk turut serta membangun daerah secara bersama-sama,” ungkap Suko.

Sebagai pihak penyelenggara sekaligus pembicara utama, Narto selaku wakil dari Bakesbangpol Linmas Jatim mengatakan bahwa diskusi yang melibatkan beberapa ahli dari UNAIR itu ditujukan untuk membangun kesadaran masyarakat dalam pilkada.

“Oleh itu kami menggelar kerja sama dengan institusi pendidikan tinggi untuk membangun kesadaran bersama. Kami berharap semua warga bisa menggunakan hak pilihnya nanti,” tuturnya.

Sementara itu, Hari Fitrianto, S.IP., M.IP., selaku dosen Ilmu Politik UNAIR mengatakan bahwa pemilu merupakan hasil perjuangan 1998 yang melahirkan reformasi. Untuk itu, pihaknya sangat berharap bahwa perjuangan 20 tahun silam itu bisa menjadi semangat warga untuk turut serta terlibat aktif dalam pesta demokrasi tahun 2018.

“Dengan adanya partisipasi politik warga yang aktif, maka kelembagaan daerah bisa mewakili kepentingan daerah sendiri untuk mendukung pembangunan nasional,” terang Hari.

Menambahkan pernyataan koleganya, pakar komunikasi gender UNAIR Liestianingsih Dwi, Dra., M.Si., mengatakan bahwa dalam proses pilkada yang akan datang, pihaknya berharap bahwa semua elemen masyarakat bisa aktif dan memeriahkan pesta demokrasi lima tahunan itu.

“Terutama elemen perempuan. Kenapa demikian? Hal ini mengingat angka pemilihan perempuan sangat besar,” terangnya.  “Dalam pemilu kita punya dua besar komponen yang berpengaruh yakni perempuan dan generasi milenial,” imbuhnya.

Sebagai pembicata terakhir, Djoko Sulistyo, Drs., MS., selaku dosen Hubungan Internasional mengatakan bahwa pemilu merupakan akses pada setiap orang untuk menyampaikan aspirasi kembali kepada pemimpin yang dirasa tepat untuk memberikan kebijakan.

“Pemilu itu kesempatan untuk menjadi media perekat umat,” tandasnya.

Pada akhir, diskusi kembali diambil alih oleh Suko. Dalam paparannya, Suko kembali menegaskan bahwa di Jawa Timur ada lebih dari 31 juta jiwa warga yang memiliki hak pilih. Untuk itu, tambah Suko, sebagai kantong terbesar kedua nasional, pemilih di Jawa Timur sangat erat kaitannya dengan arah kemajuan bangsa Indonesia ke depannya.

“Sesuai dengan target KPU Jatim, semoga 77,5% lebih warga Jatim bisa menggunakan hak pilih pada pemilu nantinya,” tegas Suko.

Penulis: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone