lulus terbaik
KETUA Senat Akademik Universitas Airlangga Prof. Joewono Soeroso memberi ucapan selamat usai menyerahkan Piala suvenir wisudawan terbaik kepada Airin Gondokusumo, disaksikan Rektor UNAIR Prof. Moh Nasih. (Foto: Bambang Bes)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS Airin Gondokusumo, mahasiswa kelahiran 9 Februari 1996 itu patut berbangga lantaran dirinya dinobatkan sebagai wisudawan terbaik program studi S1 Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga. Hal itu tak lepas dari jerih payahnya dalam kuliah tiga setengah tahun, dan meraih IPK hampir sempurna; 3,95.

Dalam skripsinya berjudul “Perbandingan Karakteristik Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi (Financial Technology Peer to Peer Lending) dengan Perbankan”, Airin mengulas karakteristik perbankan dengan Fintech P2PL. Kemudian dibandingkan untuk ditemukan persamaan dan perbedaan antar keduanya.

“Saya memilih judul itu karena Financial Technology Peer to Peer Lending (Fintech P2PL) merupakan salah satu produk finansial teknologi yang jarang dibahas, khususnya dari segi hukum, padahal di Indonesia Fintech P2PL sedang berkembang,” ujar Airin, saksi ahli terbaik pada kompetisi Internal Moot Court FH UNAIR (2015) ini.

Alumnus SMA Gloria 1 ini ternyata juga berprofesi sebagai guru kimia pada salah satu Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) di Surabaya. Meski kuliah jurusan hukum yang notabane ilmu social, namun Airin juga gemar mempelajari mata pelajaran kimia yang merupakan salah satu basic ilmu sains.

“Dulu saya murid dalam LBB (Lembaga Bimbingan Belajar) tersebut, kemudian setelah lulus SMA saya ditawari menjadi guru les di LBB itu. Karena saya suka pelajaran kimia, saya terima tawaran itu. Pendapatan di les juga bisa menambah uang jajan, dan saya mulai jadi guru les dari semester 1 hingga sekarang,” tuturnya.

Selama perkuliahan, tidak jarang ia merasa jenuh dan lelah karena kegiatan yang tidak hanya belajar, tetapi juga mengajar. Namun hal itu dapat diatasi lantaran dirinya merasa bahwa hal itu menjadi persoalan yang lumrah.

Kini, Airin mencoba mencari informasi terkait jenjang S2 maupun informasi kerja. Kalau pun Airin ternyata diterima kerja terlebih dahulu dirinya tetap berkomitmen untuk tetap melanjutkan ke program Magister (S2) meski harus menunggu satu atau dua tahun kemudian. (*)

Penulis : Pradita Desyanti

Editor : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone