Ilustrasi
Ilustrasi oleh Feri Fenoria
ShareShare on Facebook15Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Risiko jauh dari kampus utama, terutama organisasi induk, telah memberikan warna sekaligus mendewasakan AUBMO (Organisasi Bidikmisi Universitas Airlangga, red) Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Airlangga di Banyuwangi. Terbukti, empat tahun dengan ragam tantangan dan hambatan mampu mereka lewati. Yakni, dibentuk pada 2014 hingga kini 2018.

Ketua AUBMO PSDKU UNAIR di Banyuwangi 2018 Hodimatum Mahiroh mengungkapkan, organisasi yang dipimpinnya merupakan perpanjangan dari yang ada Surabaya, UNAIR pusat. Meski demikian, seluruh hal terkait keorganisasian telah menjadi wewenang AUBMO PSDKU.

Menurut Mahi –sapaan akrabnya–, dalam masa peralihan kepenguruan di PSDKU, AUBMO pusat melalui perwakilannya juga melakukan pendampingan. Mereka juga berkunjung ke PSDKU. Sementara itu, soal struktur keorganisasian di PSDKU, lanjut dia, terdapat lima kementerian. Hal itu cukup berbeda dengan keorganisasian di AUBMO pusat, UNAIR.

“Jadi, Surabaya (AUBMO pusat, Red) membentuk badan pengurus istimewa di Banyuwangi. Soal AD/ART, kami include sana (AUBMO pusat),” sebutnya. “Untuk pemilihan ketua dan program kerja pengurus, semuanya diserahkan di sini (AUBMO PSDKU),” imbuhnya saat ditemui UNAIR NEWS pada Sabtu (10/3) di Kampus Sobo, PSDKU UNAIR di Banyuwangi.

Yang utama dari keberadaan AUBMO di PSDKU, tambah Mahi, adalah mengayomi segenap mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi. Beasiswa yang berisi bantuan biaya pendidikan hingga lulus bagi mahasiswa berprestasi yang berasal dari kalangan kurang mampu.

Khususnya, ungkap Mahi, pendampingan mahasiswa dalam menempuh pendidikan tinggi, baik secara moral maupun materiil. Misalnya, melalui diskusi bulanan mulai laporan kegiatan hingga gathering. Selain itu, AUBMO berupaya memberikan wadah maupun fasilitas pengembangan untuk mahasiswa bidikmisi.

“Bidikmisi merupakan kesempatan untuk meraih asa. Di sisi lain, ini juga menjadi tanggung jawab kami untuk sebisa mungkin memberikan sesuatu hal yang terbaik bagi bangsa,” ungkapnya.

Karena itu, dalam kepengurusannya, jelas Mahi, program-program pengembangan soft skill mahasiswa menjadi salah satu hal yang utama. Salah satunya, program mulai pengembangan, pelatihan, hingga pendampingan bidang keilmuan dan kewirausahaan. Termasuk program-program kemasyarakatan.

Mahi sangat menyadari bahwa niat maupun hal baik bukan sekadar sesuatu yang jatuh dari langit, tanpa didasari tekad, juga usaha yang keras. Seperti halnya ungkapan “Jer Basuki Mawa Bea”. Namun, bagi dia, tantangan demi hambatan yang muncul itu merupakan tahapan alias proses menuju hal yang baik.

Prinsip birdikari akhirnya menjadi hal yang secara tidak langsung terbentuk dalam keorganisasiaannya tersebut. Yakni, konsep dari, untuk, dan oleh mahasiswa bidikmisi PSDKU UNAIR di Banyuwangi menjadi pilihannya. Khususnya dalam memupuk cita dan berupaya berkembang bersama-sama.

“Memenuhi program kegiatan itu, kami mengadakan iuran setiap semester. Atau memotong uang bulanan. Setiap mahasiswa Rp. 60.000,” katanya.

Ke depan, AUBMO PSDKU UNAIR di Banyuwangi melalui kepengurusannya bertekad memperlebar kiprah mahasiswa Bidikmisi dalam program pendidikan dan pengabdian. Yakni, melalui penjajakan kerja sama dengan organisasi kampus semacamnya di lngkungan terdekat di Banyuwangi.

“Juga mendorong adanya forum komunikasi bidikmisi di lingkup PSDKU,” sebutnya. (*)

 

Penulis: Feri Fenoria

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook15Tweet about this on Twitter0Email this to someone