Diskusi Publik
Suasana diskusi publik yang diselenggarakan BEM FEB UNAIR. (Foto: M. Najib Rahman)
ShareShare on Facebook13Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tidak lama lagi pesta demokrasi untuk memilih kepala daerah bakal berlangsung serentak di berbagai wilayah di Indonesia. Tak terkecuali Provinsi Jawa Timur. Pada perhelatan tahun politik kali ini, masyarakat Jatim akan memilih gubernur untuk memimpin provinsi dengan kantong suara nasional terbanyak kedua di Indonesia selama lima tahun ke depan.

Untuk menyongsong agenda akbar lima tahunan itu, Departemen Kajian Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Airlangga, mengadakan kegiatan diskusi publik yang bertajuk “Membedah Elektabilitas dan Voting Behaviour di Pilgub Jawa Timur 2018” pada Kamis (15/3).

Acara yang diadakan di Aula Fadjar Notonegoro tersebut dihadiri oleh ratusan mahasiswa. Bukan hanya dari warga FEB UNAIR saja, namun juga dihadiri oleh mahasiswa dari fakultas lain. Para pembicara yang dihadirkan dalam acara itu adalah Yohan Wahyu (Peneliti dari Penelitian dan Pengembangan Kompas), Fahrul Muzaqqi (Dosen Ilmu Politik UNAIR), dan Novri Susan (Dosen Sosiologi UNAIR).

Selaku pembicara pertama pada acara tersebut, Yohan Wahyu memberikan pemaparan mengenai survei yang dilakukan Kompas pada periode 19 Februari hingga 4 Maret 2018 untuk pasangan calon Gubernur Jawa Timur.

“Dari hasil survei yang kita lakukan, elektabilitas Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak sebesar 44,5 persen dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno sebesar 44 persen sedangkan undecided voter atau pemilih yang masih ragu sebesar 11,5 persen,” ungkap alumnus Sosiologi UNAIR tersebut.

Dari hasil elektabilitas tersebut, Yohan menambahkan bahwa dua paslon tersebut tidak bisa dikatakan sudah ada yang unggul.  Karena selisih elektabilitas kedua paslon hanya 0,5 persen yang berada di bawah sampling error yaitu sebesar 3,46 persen.

“Kesimpulannya adalah dua pasangan ini masih memiliki kesempatan yang sama dan sebanding karena selisihnya masih di bawah sampling error,” ucapnya.

Sementara itu, sebagai panelis, Fahrul Muzaqqi menjelaskan dalam perkembangan sejarah kajian voting behaviour, Indonesia memiliki tiga kajian voting behaviour. Yang pertama yaitu pendekatan psikologi dimana seseorang memilih atas dasar ideologi partai. Kemudian pendekatan sosiologi, dimana pilihan didasarkan pada pertimbangan lingkungan sekitar atau sosial. Sedang yang ketiga ialah pendekatan rasional, yang didasarkan atas tawaran program dan track record pasangan calon.

“Sekarang ini masyarakat Indonesia tidak lagi memilih pasangan calon dengan melihat ideologi partainya. Melainkan melihat tawaran program serta rekam jejak pasangan calon. Dengan begitu, pasangan calon mendapatkan tantangan bagaimana memaksimalkan secara personal kepada masyarakat Jawa Timur,” tuturnya.

Sementara itu, Novri Susan yang juga sebagai panelis berkomentar mengenai jumlah sample yang diambil Kompas. Menurutnya, jumlah 800 responden yang diambil dari Kompas itu kurang untuk menggambarkan seluruh masyarakat Jawa Timur. Di sisi lain Novri juga menyarankan kepada Kompas untuk menyurvei tidak hanya elektabilitas tertutup saja tetapi juga elektabilitas terbuka.

Pada akhir, Novri mengungkapkan pemilih di Jawa Timur memiliki perilaku yang sangat  terbuka. Masyarakat  bisa memilih siapa saja atau berganti pilihan dengan cepat sebelum pemilu. Tanpa memandang ideologi, organisasi maupun hal yang lain. Sementara sampai saat ini, elektabilitas dari kedua paslon dimenangkan oleh khofifah. Namun secara kesiapan, gus Ipul memiliki kesiapan yang lebih dengan membuat beberapa program-program yang dibutuhkan oleh Jawa Timur.

“Sehingga pertarungan sebenarnya dua kandidat ini bagaimana bisa mengusung program-program yang menarik minat masyarakat Jawa Timur,” pungkasnya.

 

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook13Tweet about this on Twitter0Email this to someone