rs terapung
DIANTARA ratusan warga sekitar Pelabuhan Kalimas Surabaya mengantre pelayanan kesehatan di RS Terapung “Ksatria Airlangga” Minggu (11/3) lalu. (Foto: Helda Budiyanti/YKMA)
ShareShare on Facebook53Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Ucapan syukur alhamdulillah disampaikan Drs. Ec. Hariyanto Basoeni, Ketua Umum IKA Universitas Airlangga, usai menyaksikan bakti sosial Rumah Sakit Terapung (RST) ”Ksatria Airlangga” yang senantiasa mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Tercatat hingga saat ini sudah melayani 2.000-an pasien. Hal itu tercatat sejak baksos di Bawean (Oktober  2017), di pulau Kangean (November 2017), dan terbaru di Pelabuhan Kalimas Surabaya (11/3/2018) lalu.

”Kami sebagai alumni UNAIR selalu bersyukur bahwa sambutannya luar biasa. Yang di Kalimas itu saja tak kurang 600 orang mengantre pelayanan RST. Mereka para warga sekitar pelabuhan, anak buah kapal yang belum berlayar, dan petugas pelabuhan,” kata Hariyanto Basoeni, kemarin. Beberapa pengemudi transportasi online juga ikut antre.

Dalam baksos RST “Ksatria Airlangga” di Kalimas itu juga hadir Wakil Rektor IV UNAIR Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., Apt., Ka Dinkes Jatim Dr. dr. Kohar Hari Santoso, Sp.An. KIC.KAP., Sekretaris Yayasan Ksatria Medica Airlangga (YKMA/pengelola operasional RST) Dr. Suwaspodo Henry Wibowo, Sp.An., MARS sebagai penanggungjawab baksos, Ketua IKA Fakultas Kedokteran UNAIR Dr. Pudjo Hartono, dr., Sp.OG., Ketua IKA-UA Jatim Dr. Hendy Hendarto, Sp.OG., pengurus dan staf YKMA lainnya.

rs terapung
PENGURUS YKMA dan alumni UNAIR berfoto bersama diatas geladak kapal RST di Pelabuhan Kalimas, Minggu (11/3). (Foto: Helda Budiyanti/YKMA)

Disampaikan lagi oleh Pak Har, sapaan akrabnya, RST “Ksatria Airlangga” ini diinisiasi oleh sejawat dokter alumni FK UNAIR. Lalu dibangun bersama Ikatan Alumni UNAIR lainnya, dan memang diperuntukan pengabdian kepada masyarakat, terutama masyarakat yang selama ini masih sulit meraih jangkauan layanan kesehatan yang memadai. Misalnya masyarakat di kepulauan terpencil dan terluar di Indonesia.

”RS Terapung UNAIR ini kami hadirkan untuk membantu dan melengkapi layanan kesehatan dari pemerintah, dengan layanan yang bisa kami jangkau. Karena itu kami berterima kasih kepada instansi, lembaga, organisasi dan donatur yang selama ini ikut bergabung membantu kami,” tambah Ketua IKA UNAIR itu.

Bahkan, RST “Ksatria Airlangga” sudah diminta oleh Kementerian Kesehatan RI untuk bisa hadir dan memberikan baksosnya di Papua, khususnya memberi layanan masyarakat Asmat. Namun, kemungkinan hal itu akan dilakukan setelah memenuhi permintaan masyarakat di Pulau Sapeken Kabupaten Sumenep dan kepulauan terluar lain di Jatim.

”Karena itu kami mohon doa dan dukungan teman-teman pers dan semua pihak, agar RST ini mampu melaksanakan visi dan misi kemanusiaannya untuk masyarakat Indonesia,” kata Pak  Har, alumni Fakultas Ekonomi UNAIR ini.

Sekretaris YKMA sekaligus penanggungjawab baksos, dr. Suwaspodo Henry Wibowo, menjelaskan, hingga saat ini RST sudah dilengkapi fasilitas medis yang cukup memadai. Ada ruang operasi/bedah dasar, ruang dan alat operasi mata, pelayanan obat, bahkan ruang perawatan sementara pasien.

Pada RST juga dilayani oleh para dokter spesialis yang diperlukan dalam suatu operasi. Misalnya dokter spesialis Bedah (Sp.B), Spesialis mata (Sp.M), spesialis kebidanan dan kandungan (Sp.OG), spesialis anastesi (Sp.An), spesialis anak (Sp.A), dan spesialis penyakit dalam (Sp.PD).

rs terapung
DIANTARA warga sedang menjalani pemeriksaan awal di Pelabuhan Kalimas. (Foto: Helda Budiyanti/YKMA)

MELAYANI 2.000-AN PASIEN

Sehingga pertengah Maret 2018 ini, RS Terapung “Ksatria Airlangga” UNAIR setidaknya sudah melayani 2.099 orang pasien. Dirinci Dr. Henry sesuai data administrasi di YKMA, pada baksos di Bawean melayani 449 pasien, di Pulau Kangean melayani 1.050 pasien, dan di pelabuhan Kalimas kemarin 600-an pasien.

Di Bawean, dari 449 pasien, 59 diantaranya pasien dengan operasi pembedahan dan 43 orang operasi (mata) katarak. Di Pulau Kangean hampir tiga kalinya, yakni 1.050 pasien. Dari ribuan pasien itu, terdapat 65 pasien yang harus dioperasi/bedah, tiga diantaranya operasi caesar, 137 pasien operasi mata katarak, dan sisanya pelayanan kesehatan yang lain.

Seperti sudah diberitakan news.unair.ac.id., RST menggunakan jenis kapal Phinisi (kapal khas Bugis) dibangun di galangan Galesong, Kab. Takalar, Sulsel. Kapal seukuran 27 x 7,5 meter ini memang agar bisa berlabuh di pelabuhan/pendaratan rakyat di pulau-pulau kecil dan terluar.

Kendati demikian RST mampu mengarungi samudera luas. Sebagai bukti, dalam pelayaran perdana dari Makassar menuju Gresik (pelabuhan Surabaya saat itu penuh – red), hanya ditempuh selama tiga hari/malam.

Padahal, kapten kapal Mudasir, belum berani memacu RST dengan kecepatan penuh, karena mesinnya masih baru (inreyen) atau masa break-in. Jadi hanya dipacu 70% saja, atau antara 9 hingga 11 knot/jam. Dalam perjalanan menuju Surabaya itu berbekal 4.000 liter solar, tetapi sesampai di Gresik masih tersisa 1.000 liter. (*)

Penulis : Bambang Bes

ShareShare on Facebook53Tweet about this on Twitter0Email this to someone