referensi
DIMAS Aditya berjabat tangan dengan Rektor UNAIR Prof. Moh Nasih usai menerima piagam penghargaan sebagai wisudawan terbaik, Maret 2018. (Foto: Bambang Edy Santosa)
ShareShare on Facebook4Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Perjalanan studi sering menghadirkan berbagai pengalaman berkesan. Suka-duka selama menempuh S2 ini juga dirasakan Muhammad Dimas Aditya Ari. Ia terkesan dengan pengalamannya selama mempelajari ilmu yang lebih spesifik dan mendalami penelitian tesis yang lebih kompleks.

Pengalaman lain yang mengesankan ketika mengikuti program Cooperative Laboratory Study Program (COLABS Program) di Faculty of Dentistry, Tohoku University, Maret-April 2017. Di sana, ia melakukan riset kolaborasi dan menghabiskan banyak waktu di laboratorium.

“Ini aktivitas yang belum pernah saya lakukan di Indonesia. Pengalaman ini membuat saya terpacu untuk maju,” kenanga Dimas, peraih IPK 3,87 ini.

Dalam tugas akhir S2-nya, pria kelahiran Lumajang 15 Oktober 1992 ini meneliti biomaterial rekayasa jaringan tulang dan sel punca. Menurutnya, sampai saat ini masih banyak ditemukan kasus kerusakan tulang, maka kebutuhan akan material pengganti tulang masih tinggi.

“Dengan menciptakan sebuah biomaterial scaffold yang memiliki sifat sesuai jaringan tulang dan ditambah dengan sel punca diharapkan dapat mempercepat proses penyembuhan dan pembentukan tulang baru,” katanya.

Ia menyadari perjalanan penelitiannya terbilang panjang dan berliku. Banyak hal yang tidak bisa diprediksi selama penelitian. Tentu saja hal itu memerlukan kesabaran cukup tinggi.

“Seperti menunggu reagen penelitian yang cukup lama, beberapa kali harus mengulang prosedur karena sel yang akan digunakan mati, dan masih banyak lagi cerita yang mewarnai perjalanan studi saya,” kata pria yang pernah mengikuti program akselerasi saat SMP dan SMA ini.

Dimas berkeyakinan, keinginannya menjadi dokter gigi  tak lepas dari dukungan keluarga, bahwa menjadi seorang dokter gigi adalah sebuah pencapaian yang membanggakan. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor : Nuri Hermawan, Bes

ShareShare on Facebook4Tweet about this on Twitter0Email this to someone