ipk sempurna
RISI Cicilia “bersalam panco” dengan Rektor UNAIR Prof. M Nasih usai ia menerima piagam penghargaan sebagai wisudawan terbaik. (Foto: Bambang Bes)
ShareShare on Facebook54Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kebahagiaan sedang direguk oleh Risi Cicilia. Ia ditahbiskan sebagai wisudawan terbaik Prodi Magister (S2) Ilmu Penyakit dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga, pada wisuda Maret 2018. Ia meraih IPK sempurna, yakni 4,00.

Ia mengangkat topik tesisnya: Identifikasi Bakteri Escherichia Coli Penghasil Extended Spectrum β-Lactamse pada Daging Sapi yang Dijual di Pasar Basah Menggunakan Metode Vitek-2”. Judul itu dipilih karena merupakan salah satu fokus pengembangan ilmu di dunia saat ini.

“Masalah resistansi bakteri terhadap antibiotik telah menjadi permasalahan dunia. Dan, World Health Organization (WHO) sudah menuliskannya di World Health Agenda yang merupakan penetapan visi sepuluh tahun masa depan kesehatan sebagai ancaman kesehatan di dunia,” Jelas Risi.

Salah satu bakteri yang resistan terhadap antibiotik adalah E. Coli yang menghasilkan enzim Extended Spectrum β-Lactamse (ESBL). Enzim dari bakteri gram negatif itu mengakibatkan hampir semua antibiotik jenis β-Lactam seperti Penicillin, Cepalosporin, dan Monobactam Aztreonam tidak mempan. Sementara itu, penelitian Risi berfokus pada E. Coli di daging sapi konsumsi masyarakat.

“Masyarakat yang mengonsumsi daging sapi tercemar E. Coli, terutama yang dapat menghasilkan ESBL, bisa terkena penyakit yang sulit dan lama diobati. Ini bisa menimbulkan komplikasi, bahkan kematian,” terang Risi.

Sampel daging dari lima pasar itu kemudian diisolasi dengan media selektif serta uji biokimiawi. Selanjutnya, resistansi sampel diuji dengan metode disk diffusion dari enam jenis antibiotik, yakni Ampicillin, Cefazolin, Ceftriaxone, Cefotaxime, Ceftazidime, dan Tetracyclin. Jika terdapat resistansi, tahapnya dilanjutkan dengan identifikasi jenis bakteri melalui metode Vitek-2 System. Melewati proses-proses tersebut, Risi bukan tanpa tantangan.

“Biaya yang dikeluarkan tidak kecil. Selain itu proses mendapatkan sampel daging sapi. Jarak pasarnya jauh. Serta, waktu pengambilannya harus sekitar subuh supaya daging masih segar,” katanya.

Risi yang bekerja di Balai Pertanian itu berharap tesisnya mampu menyediakan data sumber penularan bakteri ESBL yang dibutuhkan WHO. Khususnya dari daging sapi, sehingga mampu berkontribusi untuk negeri dan masyarakat. (*)

Penulis : Hilmi Putera Pradana.

Editor : Feri Fenoria.

 

ShareShare on Facebook54Tweet about this on Twitter0Email this to someone