Delegasi IYTEP bersama dengan sejumlah siswa muslim di Thailand dalam program Study Exchange.(Foro: Istimewa)
ShareShare on Facebook72Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Rasa penasaran, keinginan mencecap pengalaman baru, serta dorongan untuk berbagi menuntun Alif Noviana mengikuti event internasional. Tepatnya di Thailand Selatan, dia mengikuti program exchange bertajuk International Youth Teacher Exchange Program 2018 (IYTEP).

“Latar belakang kegiatan ini yang menjadi pengajar dan berbagi ilmu kepada sesama membuat semakin mantap untuk ikut. Sebab, saya rasa tidak akan ada ruginya juga” ungkap mahasiswa Fakultas Farmasi UNAIR tersebut.

Di antara 40 delegasi, Alif merupakan satu-satunya yang berasal dari UNAIR. Program perdana Language Lovers Community (L2C) yang bekerja sama dengan Yala Rajabhat University dan Abroad Alumni Association of Southern Border Province Thailand itu mengajak pemuda untuk menjadi pengajar dalam pengembangan pendidikan. Khususnya di lembaga pendidikan Islam formal di Thailand Selatan.

Di sana, dibentuk kelompok kecil yang terdiri atas 2–4 anggota. Mereka akan ditempatkan di sekolah Islam formal di tiga provinsi, yaitu Yala, Narathiwat, dan Pattani.

”Kebetulan saya ditempatkan di Provinsi Narathiwat. Saya dapat berbagi ilmu di Pondok Dinniah Islamic School of Narathiwat,” ujarnya.

”Saat tim datang, mereka (siswa-siswi sana, Red) menjamu kami dengan sajian rasa masam olahan khas Thailand. Rasanya sangat senang dan bersyukur bisa dipertemukan dengan sesama muslim di belahan bumi yang lain,” tambahnya.

Alif menambahkan, selama di sana, dirinya mengajar tiga pelajaran. Yakni, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Selain itu, delegasi IYTEP menyosialisasikan cara-cara, pengetahuan prosedur, untuk bersekolah di Indonesia.

Suasana kegiatan belajar dalam program Study Exchange. (Foto: Istimewa)

Hal tersebut disambut dengan antusias yang tinggi oleh kalangan muda Thailand. Setelah 13 hari tim mengajar efektif di sana, digelar upacara penutupan serta tukar cenderamata. Suasana khidmat dan haru menimbulkan keengganan untuk meninggalkan warga di Desa Narathiwat.

“Hingga saat ini, kami masih menjalin hubungan (tetap berkomunikasi, Red). Tak bisa bertemu secara langsung, tapi melalui media sosial. Tali silaturahmi harus tetap terjaga,” tuturnya.

Bagi Alif, ada kegiatan yang paling berkesan saat di sana. Yakni, ketika datang dalam acara resepsi kenduri salah seorang guru sekolah. Bahkan, dalam acara itu, delegasi IYTEP diminta maju untuk menemani sang pengantin sehingga ikut menyalami para tamu undangan.

”Saya juga terkejut setelah mengetahui adik sang pengantin bekerja di Indonesia sesudah berkuliah di Indonesia,” ucapnya. ”Kepada kami, kepala sekolah berpesan hidup bukan hanya sekadar bernapas, tapi juga berusaha untuk menjadi lebih baik dari hari ini. Tak harus berhasil, namun harus dengan lillahi ta’ala,” imbuh Alif. (*)

 

Penulis : Hilmi Putra Pradana

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook72Tweet about this on Twitter0Email this to someone