koyuki atifa
KOYUKI ketika menerima piagam dan piala sebagai wisudawan terbaik dari Ketua Senat Akademik UNAIR Prof. Joewono Soeroso, disaksikan Rektor UNAIR. (Foto: Bambang Bes)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Sebagai mahasiswa kedokteran, rutinitas perkuliahan yang padat dan tuntutan untuk senantiasa bisa menguasai berbagai materi perkuliahan, tidak membuat Koyuki Atifa Rahmi patah semangat. Alumni SMAN 3 ”Bhawikarsu” Kota Malang ini justru merasa enjoy dengan aktivitasnya.

Pertama seseorang mendengar nama Koyuki, tidak sedikit yang mengira bahwa perempuan kelahiran 9 Desember 1997 ini keturunan orang Jepang. Padahal sama sekali bukan. Koyuki asli orang Indonesia, kelahiran Lamongan. Ia lulus dengan meraih IPK 3,87.

”Orang tua saya suka dengan nama itu, makanya saya dinamai Koyuki,” katanya ketika ditemui unair.news.

Di akhir studinya, Koyuki terpilih sebagai wisudawan terbaik S1 Pendidikan Dokter FK UNAIR pada wisuda edisi bulan Maret 2018 ini. Sejak SMA ia mengaku bercita-cita menjadi dokter, karena sangat menggemari ilmu sains, misalnya biologi. Tentu saja, kesenangan itu sangat membantunya ketika akhirnya ia benar-benar mempelajari ilmu kedokteran yang memiliki aspek pembelajaran luas.

“Bagi saya semua bidang kedokteran itu menarik. Tapi saya paling suka dengan ilmu fisiologi tubuh. Dengan mempelajari ilmu tersebut kita bisa tahu bagaimana tubuh kita ini bekerja. Semua ternyata saling berkaitan dan sangat menarik untuk dipelajari,” ungkapnya.

Penghobi membaca novel detektif atau misteri ini merasa bahwa seluruh ilmu dan pengalaman selama kuliah di FK UNAIR sangat bermanfaat. Hal itu merupakan suatu yang berharga dan berkesan.

Nggak ada metode belajar secara khusus. Saya hanya belajar dengan membaca materi sebelum dijelaskan oleh dosen pada saat perkuliahan. Kemudian mencatat saat kuliah, membaca ulang hasil catatan tersebut, lalu mencoba mengerjakan soal-soal,” tambah Koyuki.

Koyuki pernah meraih sejumlah prestasi sebagai Juara II kelompok cabang AVSQ Airlangga Medical Scientific Week 2015. Ia juga pernah mencapai peringkat 1 Sub Program I Program Studi S1 Pendidikan Dokter FK UNAIR dan peringkat 1 Sub Program III Program Studi S1 Pendidikan Dokter FK UNAIR. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor : Nuri Hernawan, Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone