kesibukan
SENYUM mengembang dari bibir Robby Arsyahdani ketika menerima piagam penghargaan dari Rektor UNAIR Prof. Moh Nasih, di acara wisuda periode Maret 2018. (Foto: Bambang Bes)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kebanggan sedang membuncah pada diri Robby Arsyahdani. Perjuangannya selama mengarungi pendidikan di Universitas Airlangga membuahkan hasil yang membanggakan. Mahasiswa kelahiran Tuban, 20 Mei 1994 ini, meraih predikat sebagai wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga dalam wisuda edisi Maret 2018. Ia memperoleh IPK 3,91.

”Awal masuk kuliah dulu saya sempat merasa minder. Bisa dikatakan saya sudah terlalu tua untuk menjadi mahasiswa baru. Saya molor satu tahun saat SMA karena mengikuti pertukaran pelajar (student exchange) ke Amerika tahun 2011-2012,” kata Robby.

Lulus SMA, Robby sempat kuliah D4 di jurusan Teknik Elektro di salah satu universitas di Surabaya. Namun karena merasa tidak nyaman, ia hanya bertahan setahun. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke jurusan Sastra Inggris di FIB Universitas Airlangga.

Sempat merasa malu dengan orang tua karena terlalu lama melakukan studi, Robby akhirnya mencari penghasilan untuk membiayai kuliahnya. Misalnya selama liburan ia menyibukkan diri dengan magang di English First.

“Mulai semester IV saya kerja part time di sana. Jadi pagi sampai siang kuliah, nanti jam lima sore (17.00 WIB) magang di English First itu,” ungkapnya.

Selain disibukkan oleh kegiatan magang kerja, Robby juga aktif di komunitas Bina Antarbudaya. Kegiatannya menyeleksi siswa kelas satu SMA yang akan belajar di luar negeri. Disamping itu juga menyeleksi mahasiswa asing yang akan belajar di Indonesia.

”Jadi semacam organisasi yang bergerak di bidang Intercultural Learning. Kalau di internasional lebih dikenal American Field Service (AFS)-nya Indonesia,” jelas Robby.

Perihal skripsi, Robby menulis tentang ”Interaksi Guru dan Murid di Kelas Bahasa Inggris dalam Pesantren.” Dalam tulisannya itu ia membandingkan clashing idea antara pembelajaran bahasa Inggris yang lebih menuntut murid untuk aktif dengan karakteristik murid pesantren yang harus tawadhu’ (nurut) kepada gurunya.

Robby, Duta Bahasa Jawa Timur tahun 2013 –masuk 25 besar—itu, saat ini sedang disibukkan dengan pekerjaannya. Namun, ia bercita-cita untuk melanjutkan studi S2. Rencananya akan melanjutkan studi S2 di New Zealand.

Ia berpesan untuk adik kelas yang sedang menempuh studi, agar meningkatkan atau mempertahankan nilai akademiknya. Itu harus. Begitu pula memiliki soft skill yang bagus. ”Jadi sebisa mungkin membagi waktu untuk belajar keduanya dengan maksimal,” tambah Robby. (*)

Penulis : M. Najib Rachman

Editor : Bambang Bes.

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone