Strategi Promosi Jadi Tantangan Pariwisata Indonesia

UNAIR NEWS – Perkembangan sektor pariwisata menjadi kekuatan ekonomi di berbagai negara. Melihat besarnya potensi pariwisata yang dimiliki Indonesia, Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) menghelat kuliah tamu bersama Dr. Mark Hampton FRGS dari University of Kent, United Kingdom.

“Dalam kegiatan ini banyak-banyaklah bertanya karena beliau adalah ahli dalam bidang pariwisata, khususnya industri pariwisata di South-East Asia,” tutur Afifah Rahmania, staf admin event and communication Airlangga Global Engagement (AGE) dalam pembukaan kuliah umum.

Kuliah tamu yang diselenggarakan Kamis (8/3) itu bertajuk “Tourism and Economic Development in South East Asia”. Mark mengawali kuliahnya dengan menjelaskan sejarah perkembangan pariwisata yang pesat setiap periode waktu. Ia menyebutkan, pada tahun 1980-an, Thailand, Malaysia, Indonesia dan Singapura masih dikunjungi 2-3 juta wisatawan setiap tahun. Menginjak tahun 1990-an, mencapai dua kali lipat. Terlebih, Indonesia meningkat tiga kali lipat, didominasi tujuan Bali dan Jakarta.

Di balik perkembangan yang pesat, Mark menguraikan beberapa faktor pendorong tumbuhnya industri pariwisata, mulai dari perhotelan hingga daya dukung transportasi. Peningkatan permintaan karena libur panjang di Eropa dan Amerika Utara menyebabkan banyaknya destinasi ke Asia.

“Asia terkenal dengan eksotis yang khas. Pantai yang indah, ombak tinggi, hingga kearifan lokal lain menjadi daya tarik tersendiri,” kata Mark yang juga salah satu pengajar di University of Kent.

Persepsi negara barat, lanjut Mark, melihat negara tropis adalah surga. Terlebih, dipromosikan melalui stasiun televisi dan internet yang semakin menarik kosumen.

Di samping itu, pertumbuhan minat pariwisata membawa dampak bagi perekonomian. Kontribusi utama yakni pendapatan negara dan pendapatan nilai tukar. Selain itu, masyarakat mulai menemukan lapangan pekerjaan dan penyedia oleh-oleh atau makanan tradisional khas daerah.

Selama meneliti pariwisata di Asia, Mark mendapati beberapa isu yang masih menjadi pekerjaan rumah. Startegi promosi menjadi permasalahan bagaimana menjual hal yang berbeda dan menunjukkan karakteristik sebuah negara. Selain itu, pembangunan hotel atau fasilitas penunjang masih memerlukan modal tinggi.

“Dimasa depan kenaikan harga minyak akan memengaruhi biaya perjalanan. Di sisi lain, ketika berbagai negara sudah mendatangi Indonesia, maka memiliki potensi konflik karena perbedaan budaya. Hal ini adalah tantangan masa depan dalam praktik pengelolaan,” tutup Mark. (*)

Penulis : Siti Nur Umami

Editor: Binti Q. Masruroh