CEO TCASH Danu Wicaksana saat memberikan paparan dalam talk show bertajuk “Peran Fintech dalam Membangun Ekonomi Digital dan Mendorong Inklusif Keuangan” pada Jumat (9/3) di Aula Fajar Notonegoro. (Foto: Siti Nur Umami)
ShareShare on Facebook10Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga menggelar talk show bertajuk “Peran Fintech dalam Membangun Ekonomi Digital dan Mendorong Inklusif Keuangan” pada Jumat (9/3). Bertempat di Aula Fajar Notonegoro, talk show itu dihadiri langsung oleh CEO TCASH Danu Wicaksana dan Ekonom FEB Dr. Wasiaturrahma.

“Kondisi perekonomian Indonesia tahun ini diprediksi meningkat. Artinya, ekonomi Indonesia membaik daripada ekonomi global. Namun, ada yang menarik, yaitu peran teknologi. Perkembangan revolusi industri ke-4 membuat Indonesia harus siap menyongsongnya. Karena itu, semoga diskusi ini dapat bermanfaat,” tutur Wakil Dekan I Dr Rudi Purwono dalam sambutannya.

Sementara itu, Telkomsel melalui Endra Diputra, GM Youth and Community, menyampaikan dua komitmen dalam mendukung fintech. Yakni, less cash society dan youth and community. Telkomsel hadir melalui TCASH untuk berbagai penggunaan, mulai pembelian hingga pembayaran listrik. Selain itu, Telkomsel merangkul generasi muda yang diyakini bukan hanya memiliki karir, tapi juga misi.

Selanjutnya, Dr. Wasiaturrahma membuka talk show dengan paparan bagaimana peran fintech dan Bank Indonesia (BI). Kehadiran fintech, menurut dia, sebenarnya sudah lama, tapi baru marak karena digitalisasi telah merevolusi seluruh sendi kehidupan.

“Misalnya, e-money. Keuntungannya, kita tidak perlu ribet dengan uang tunai dan uang kembalian,” ungkapnya.

Dr. Wasiaturrahma menguraikan beberapa keuntungan dari digitalisasi. Di antaranya, peningkatan efisiensi, transaksi pembayaran menurunkan biaya 1 persen GDP, serta secara umum konversi dari tunai ke elektronik menurunkan 75 persen biaya.

Dalam hal tersebut, Dr. Wasiaturrahma menyatakan bahwa Bank Sentral turut berperan dalam digitalisasi. Yakni, mereduksi shadow economy, mitigasi aktivitas illegal seperti korupsi dan cuci uang, serta modernisasi infrastruktur keuangan yang terintegrasi.

“Untuk risiko, perlindungan konsumen, cybercrime, dan volatilitas asset perlu diperhatikan,” terang pengajar di FEB itu.

Tidak jauh berbeda, Danu menjelaskan bahwa fintech memiliki potensi yang besar. Sebanyak 60 persen populasi Indonesia masih tergolong kategori unbanked dan belum memiliki akses terhadap bank. Di samping itu, hal tersebut akan menjadi sumber pajak. Mengingat, saat ini pemerintah rajin mencari sumber pendapatan pajak. Faktor yang memengaruhi adalah 83 persen transaksi masih dilakukan secara tunai. Bila teknologi mampu mencatat, hal itu akan membantu sumber perpajakan.

“Presiden Jokowi menargetkan 75 persen inklusif keuangan sehingga menggandeng telekomunikasi. Artinya, turut berkolaborasi dengan perbankan,” tuturnya.

Menurut Danu, TCASH hadir menjadi inovasi bukan hanya untuk masyarakat perkotaan, tapi juga menjangkau masyarakat perdesaan. Yakni, dengan bekerja sama dengan perbankan untuk menyejahterakan masyarakat. (*)

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook10Tweet about this on Twitter0Email this to someone